Pengumpan:
Tulisan
Komentar

Sakuragaoka [prolog]

Dalam mimpiku aku mengejarnya. Di duniaku yang sempit ini aku dikejarnya. Mimpiku bagai kaleidoskop kehidupanku, berkelebat, berputar. Warna-warni waktuku silih berganti di depan mataku, semuanya berlalu dengan cepat. Cepat datang, dan cepat pergi. Bagaikan kabut pagi yang akan hilang ketika fajar menjelang. Kehidupanku hanya manifestasi ilusiku semata.

Akan tetapi, ilusi-ilusi tadi semakin lama semakin nyata. Warna-warni yang selalu mengaburkan pandanganku kini menjadi jalan setapak di bawah telapak kakiku. Dan kabut yang selalu menyelimuti hatiku, kini memudar, digantikan oleh sosoknya yang kelam, namun hangat. Lanjut Baca »

Mimpi, harapan, dan cita-cita. Itulah yang membuat manusia berusaha untuk terus maju agar harapan, mimpi, dan cita-cita dapat tercapai. Kehidupan manusia yang seimbang antara mimpi dan usaha, akan memberikan kebahagiaan. Akan tetapi, manusia seringkali membuang kenyataan dan hanya bermimpi, atau sebaliknya, manusia membuang mimpinya, dan hidup di dunia dalam kegelapan, tanpa arah dan tujuan.
Akan tetapi, antara usaha dan mimpi, tidak sepenuhnya seimbang. Sebagian orang lebih banyak bermimpi dibandingkan dengan usahanya. Rasanya, hal ini tentu dialami setiap manusia pada masa kecilnya. Sementara sebagian lain, lebih berusaha keras dibandingkan banyak bermimpi. Dan sebagian besar orang yang beranjak dewasa merasakan hal ini. Lanjut Baca »

Matahari masih enggan menyingkap tabirnya.
Namun angin musim semi telah berhembus dengan lembut
mengenggam sekelopak bunga merah muda
melewati celah yang tidak sengaja terbuka
dan turun dengan tenang di lanskap penciuman
Ah, wangi bunga sakura…. Lanjut Baca »

“Terima kasih, Hiroshi…”

Kalimat ini terngiang-ngiang di kepalaku. Suaranya yang begitu lembut. Senyumnya yang begitu indah. Kasihnya yang begitu murni. Aku merindukannya. Setelah sekian lama dan akhirnya aku kembali ke sini, aku sangat merindukannya. Dan aku kembali mengingat bagaimana kami bertemu. Lanjut Baca »

Dua kali sehari, enam hari seminggu. Bukan… bukan jadwal minum obat. Itu adalah jadwalku melewati jalan ini setiap berangkat dan pulang sekolah. Jalan ini sepi, karena itu aku merasa jalan ini sangat cocok denganku yang pendiam. Semua rumah membelakangi jalan ini kecuali sebuah rumah yang besar di depan sana. Tapi rumah besar itupun tampak tidak berpenghuni.

Lanjut Baca »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.