Dua kali sehari, enam hari seminggu. Bukan… bukan jadwal minum obat. Itu adalah jadwalku melewati jalan ini setiap berangkat dan pulang sekolah. Jalan ini sepi, karena itu aku merasa jalan ini sangat cocok denganku yang pendiam. Semua rumah membelakangi jalan ini kecuali sebuah rumah yang besar di depan sana. Tapi rumah besar itupun tampak tidak berpenghuni.
Rumah itu terbuat dari bata merah, tinggi, lebih tinggi dari pohon sakura yang ada di sampingnya. Pohon sakura besar yang terlihat mulai mekar, pohon itulah satu satunya yang mencolok di halaman rumah itu. Selain itu hanya ada rerumputan yang rimbun tak terawat. Rumput setinggi dada tumbuh di seluruh halaman rumah, menutupi segalanya, termasuk jalan setapak dari gerbang ke pintu rumah. Dua buah gerbang depannya senantiasa menutup, seakan melarang siapapun yang akan mengusik ketenangan Sang Sakura untuk masuk. Meski tampaknya tak terawat, tapi ada papan nama yang tergantung di depan rumah itu, Sakura.
Ironis memang. Rumah keluarga Sakura, tapi tidak ada Sakura lagi selain sebatang pohon yang tumbuh di depannya. Setiap musim semi, sakura di sinilah yang mekarnya paling indah karena terasa kontras dengan pemandangan di sekitarnya. Mungkin hanya aku yang merasa demikian, tapi aku selalu senang kalau melihat dahan-dahannya melambai lambai ditiup angin.
Namaku Ryonosuke. Ryonosuke Takeda. Aku lahir dan tumbuh di kota ini. Kota kecil ini adalah duniaku. Tak pernah sekalipun aku menjejakkan kaki keluar dari Sakuragaoka. Aku hanya sering melihat dunia luar melalui buku yang berada di perpustakaan keluarga.
Ayah dan Ibuku adalah astronom, karena itu banyak buku tentang bintang di perpustakaan. Bintang bintang selalu menarik perhatianku dengan kerlipan, nama, dan cerita mereka. Dulu aku selalu mendengar cerita tentang asal nama bintang sebagai pengiringku tidur. Mereka pindah ke kota ini setelah menikah untuk melanjutkan pengamatan di bukit Sakuragaoka.
Kota ini, meskipun tidak sebesar Tokyo atau Kyoto, tapi ada perasaan tenteram di sini. Kalau musim dingin, kadang kadang kota ini diselimuti hamparan putih salju. Karpet putih yang dingin dingin empuk menjadi arena perang bola salju. Lalu salju putih itu berganti dengan rerumputan hijau dan jalan aspal saat musim semi datang. Tahun pun berulang lagi.
Kali inipun aku berjalan melewati tempat ini lagi. Libur musim dingin sudah selesai dan tahun ajaran baru dimulai kembali. Cuaca masih tidak bersahabat dengan orang yang tidak kuat dingin. Sisa sisa musim sebelumnya masih tertinggal. Hujan masih sering turun, meski tidak deras. Kali inipun awan gelap menggantung di langit.
Aku berhenti sejenak saat melewati rumah itu. Masih rumah yang sama, tapi ada yang berubah dari biasanya. Sekilas melihatpun orang yang biasa melewati tempat ini akan sadar apa yang berubah. Meskipun sekitarnya masih lebat, tapi rumput yang menutupi jalan setapak di halaman sudah habis dibabat. Apakah sekarang ada orang yang tinggal di dalamnya? Siapa gerangan? Tapi pertanyaanku itu disela oleh suara dering ponsel.
“Ya?” Kujawab panggilannya.
“Hoi, Takeda. Dimana kau?” Suara Tanaka di ujung sana terdengar.
“Lagi di jalan, sebentar lagi sampai ke sekolah.”
“Cepat! Yang lain sudah kumpul nih. Cuma tinggal kamu yang belum dateng.”
“Oke. Tunggu aku 5 menit lagi.” Kututup telepon selularku tanpa mempedulikan ocehan Tanaka selanjutnya.
Hari ini memang rencananya kami akan mengerjakan tugas kelompok di sekolah. Tanaka ketua kelompoknya. Dia orang yang tidak tepat waktu, tapi bukan orang yang suka terlambat. Dia justru datang lebih cepat beberapa saat sebelum waktu perjanjian. Seperti kali ini, seharusnya masih ada 10 menit lagi, tapi dia sudah mulai menghubungi orang orang yang belum kelihatan.
Aku melihat sekilas ke rumah besar untuk terakhir kalinya sebelum aku meninggalkan tempat itu. Sekedar untuk meletakkan rasa penasaranku. Tapi justru rasa penasaranku semakin bertambah. Kali ini jendela lantai atas terbuka. Di tepi jendela tampak seorang wanita melamun bertopang dagu, memandang kosong ke langit. Rambutnya hitam panjang, menari nari dibelai angin.
Pertanyaan pertanyaan yang bermunculan di kepalaku kualihkan. Sekeras apapun aku berpikir, jawabannya tidak akan muncul begitu saja karena aku bukan peramal. Tiba tiba terbersit di pikiranku, jangan jangan pemilik rumah itu akhirnya kembali menempatinya. Aku lupa karena saking lamanya tempat itu tidak ditinggali. Biar saja, toh seandainya dia adalah pemilik rumah itu, dia berhak tinggal di dalamnya. Sekarang aku harus segera pergi ke sekolah sebelum hujan dari langit atau hujan dari mulut Tanaka turun.
“Akhirnya datang juga. Sini kau!” Tanaka memanggilku saat melihatku masuk ke dalam kelas. Aku melangkah mendekatinya.
Di meja, aku melihat guntingan guntingan kertas berserakan. Ada sebuah benda putih berbentuk seperti terong di atasnya. Itu adalah badan pesawat model yang sedang kami kerjakan. Tugas yang menyenangkan.
“Kau urus yang bagian sayap.” Katanya sambil menyerahkan beberapa lembar kertas. Aku hanya mengangguk kecil. Kami bekerja sampai bel masuk berbunyi.
Selama pelajaran, aku sempat teringat tentang wanita misterius itu. Umurnya kurasa tidak terlalu berbeda jauh denganku. Dan dia anak yang cukup manis pula. Tapi kenapa dia tidak pergi ke sekolah? Biar kupastikan nanti sepulangnya aku dari sini.
Waktu berlalu dengan cepat karena pelajaran hari ini menyenangkan. Aku pulang melewati jalan itu lagi. Tapi aku tidak melihatnya karena jendela lantai 2 kali ini tertutup. Hanya dahan sakura yang berayun ditiup angin yang ada di depan jendela. Sama sekali tidak ada wanita. Aku pencet bel yang ada di depan rumahnya. Tapi tak ada jawaban. Tak seorangpun yang keluar. Rumah itu tetap sepi seperti biasa.
Esok harinya, aku melewati tempat itu lagi. Wanita itu juga belum menampakkan wajahnya di jendela. Apakah kemarin itu hanya halusinasiku saja? Apakah rumah ini masih tetap kosong seperti biasanya? Tidak mungkin. Jalan dari gerbang ke pintu rumah terlihat jelas bekas dibersihkan. Pasti ada orang yang sekarang tinggal di rumah ini.
Waktu makan siang. Aku baru saja membeli nasi bungkus di kantin sekolah. Waktu kubuka pintu geser kelasku, kudengar suara anak anak perempuan yang sedang mengobrol.
“Hei hei… kalian tahu rumah hantu yang ada di belakang kompleks kita, gak? Katanya ada hantu yang muncul.” Beberapa gadis berkumpul di satu meja, bercerita sambil makan siang. Topik itu mengundang beberapa orang untuk datang dan ikut mengobrol.
“Rumah yang besar itu?”
“Iya. Ada yang melihat bayangan orang kemarin.Padahal kata ibuku, keluarga Sakura sudah pindah ke kota lain karena anaknya sakit sejak 7 tahun yang lalu. Ibuku juga mendengar suara suara aneh tadi malam dari rumah itu.”
“Ah… paling itu hanya suara kucing.” Seorang anak laki laki menimpali.
“Mana ada kucing yang bersuara ‘tap tap’, ‘huuu’, dan ‘krieeet’ . Dasar cowok cowok bodoh!”
“Kalo bukan kucing ya paling maling…, dasar cewek penakut!” Obrolan itu berubah menjadi ejek ejekan antar gender. Aku yang tadinya sempat tertarik dengan obrolan itu jadi kecewa, lalu berjalan menuju tempat dudukku di samping jendela.
Seminggu kemudian misteri baru terjawab. Aku melihat sebuah truk pengangkut barang berhenti di depan rumah itu saat akan berangkat sekolah. Beberapa orang lelaki terlihat sedang mengangkut barang barang, sebagian membetulkan begian bagian rumah yang rusak dan beberapa lainnya terlihat sedang memotong rumput. Seorang wanita berdiri di gerbang sambil mengomando mereka. Menyadari aku berjalan mendekat, dia berbalik dan membungkuk.
“Salam kenal. Nama saya Yui Mizunashi. Panggil saja saya Yui. Mulai sekarang saya dan tuan putri akan tinggal di sini. Mohon bantuannya ya.” Dia tersenyum. Umurnya mungkin sekitar 30an awal. Rambutnya lurus dengan potongan pendek. Jas dan kacamata menyiratkan bahwa dia seorang wanita karir.
“Ah… saya Takeda. Ryonosuke Takeda. Kami tinggal di rumah sana.” Aku menunjuk ke ujung jalan tempatku datang.
“Baiklah tuan Takeda. Salam kenal.” Dia tersenyum lagi. Orang yang ramah, kesanku.
“Ryonosuke saja, tidak usah pake tuan. Tadi kau bilang kau dan tuan putri. Dimana?”
“Tuan putri Hoshino. Maaf, tapi mungkin tuan tidak akan bisa bertemu dengan tuan putri. Beliau tidak menyukai orang lain dan ke sini untuk menyendiri.”
“…” Aku terdiam sejenak. Mungkinkah Hoshino adalah orang yang minggu lalu kulihat di jendela?
“Ah… maaf, Ryonosuke-san.” Dia menutup mulutnya dengan tangan seperti salah mengatakan sesuatu. “Saya pakai kata kata tuan lagi tadi. Semoga anda tidak marah.”
“Tidak apa apa.” Aku tersenyum.
“Permisi, bu. Barang yang ini saya taruh di luar atau di dalam?” Seorang laki laki yang mengangkut sebuah kardus menyela percakapan kami. Yui lalu memberi instruksi pada para pekerja itu. Karena sepertinya mereka sedang sibuk, akupun pamit untuk melanjutkan perjalananku.
“Baiklah Ryonosuke-san. Nanti mungkin saya akan datang ke rumah anda untuk memperkenalkan diri sebagai tetangga baru. Hati hati di jalan.”
“Ah, sepertinya hari ini orang tuaku sedang berada di observatorium, jadi tidak akan ada orang di rumah.”
“Oooh…” Raut wajah Yui sedikit kecewa, tapi langsung berubah menjadi ceria lagi. “Tidak apa apa kalau begitu.”
(===bersambung===)
(cerita ini dibuat oleh Psylo)