“Terima kasih, Hiroshi…”
Kalimat ini terngiang-ngiang di kepalaku. Suaranya yang begitu lembut. Senyumnya yang begitu indah. Kasihnya yang begitu murni. Aku merindukannya. Setelah sekian lama dan akhirnya aku kembali ke sini, aku sangat merindukannya. Dan aku kembali mengingat bagaimana kami bertemu.
Sebuah bolpoin terjatuh di depanku. Aku mengambilnya lalu berdiri. Seorang wanita berdiri dari kursinya dan menghampiriku. Raut wajahnya mengatakan’ maaf’. Dia tampak merasa bersalah.
“Ah, maaf, terima kasih sudah mengambilkan bolpoin saya.”
“Silahkan…” aku menyerahkan bolpoin miliknya di tanganku.
Dia kembali ke mejanya di dekat jendela dan mulai menulis lagi. Wajahnya seolah mengatakan ‘ah, aku melakukannya lagi. Sekarang harus kembali bekerja.’ Aku memperhatikan apa yang ada di mejanya sejenak. Sebuah buku dengan table-tabel. Apakah dia bekerja di sini? Aku tidak tahu dan aku tidak menanyakannya. Aku kembali berjalan menuju tujanku semula. Toilet.
Begitulah awal pertemuanku dengannya. Awalnya hanya sebuah kejadian sepele. Tetapi aku tidak tahu apa yang direncanakan Tuhan untukku saat itu. Aku belum tahu bahwa aku akan kembali menemuinya di saat-saat yang lain.
Sebuah bolpoin terjatuh di depanku. Aku mengambilnya lalu berdiri. Seorang wanita berdiri dari kursinya dan menghampiriku. Raut wajahnya setengah terkejut seolah mengatakan ‘Ah, orang yang waktu itu!’
“Ah, terima kasih. Anda mengambil bolpoin saya lagi.”
Tampaknya dia mengingatku. “Silahkan…” sekali lagi aku menyerahkan bolpoin miliknya.
“Terima kasih banyak. Maaf, saya harus kembali bekerja.” wanita itu kembali ke mejanya. Meja yang sama dengan meja pada saat terakhir kali kami bertemu. Isi mejanya pun sama.
Seperti apa yang kulakukan terakhir kali aku bertemu dengannya, aku kembali berjalan menuju tujuanku semula. Toilet. Tetapi kali ini, saat aku kembali dari toilet, aku melewatinya dan memperhatikannya sejenak. Dia hanya diam memegang bolpoinnya. Dia tidak menulis, hanya diam.
Aku melihat bolpoinnya sudah hampir terlepas dari tangannya. Aku menghampirinya dan menangkap bolpoin yang akan terjatuh itu.
“Bolpoin anda terjatuh lagi…” memang belum sampai ke lantai sih, bolpoinnya. Tetapi, bisa dihitung sudah terjatuh. Aku menyerahkan bolpoin tersebut dengan senyum di bibirku. Senyum yang membuat wanita itu malu.
“Ah, maaf sudah merepotkan. Hahaha…” Dia tertawa kecil untuk menyamarkan rasa malunya.
“Anda bekerja di sini?”
“Eh? Iya benar.”
“Apa yang anda kerjakan?” sebenarnya aku sudah ada bayangan apa profesi wanita ini, tapi aku tetap menanyakannya. Basa-basi mungkin.
“Saya bekerja sebagai manajer tempat ini. Jadi, saya mengurus bagaimana kinerja orang-orang di sini, profit yang dihasilkan, kerugian jika ada, administrasi inventori, dan banyak hal lain.”
Aku mengangguk-angguk. Wanita itu kemudian terkejut, seolah menyadari sesuatu “Ah, saya menggunakan istilah-istilah yang rumit. Maaf, kamu tidak mengerti ya?”
“Tidak juga. Aku mengerti kok.”
“Oh? Benarkah…?” Aku mengangguk. Wanita itu tampak tidak percaya.
“Melamun bukan pekerjaan seorang manajer bukan?” Aku kembali mulai bicara.
“Eh…? Ah ha hahaha…” Wanita tersebut tertawa lagi.
Sama seperti sebelumnya, dia menyembunyikan rasa malunya. Tapi, dia mengakhiri tertawanya dengan sebuah senyum. Sayangnya senyum yang muncul di depanku ini bukan senyum yang indah. Sebuah senyum yang meyeruakkan kesedihan, seperti berteriak ‘Jangan tinggalkan aku! Jangan tinggalkan aku dalam kesepian!’
“Ngomong-ngomong, siapa namamu…?” Wanita itu kembali bertanya setelah beberapa saat.
“Hiroshi.”
“Senang berkenalan denganmu, Hiroshi… ”
Sejak saat itu, aku menjadi cukup sering bertemu dengan wanita itu. Sayang sekali aku tidak bisa mengingat namanya. Komoe atau Yayoi atau apa, aku lupa.
Awalnya, aku hanya menganggap aku mendapatkan teman baru karena aku tidak punya seorang teman pun di sekolah. Tetapi, belakangan aku mengetahui bahwa wanita itu berarti lebih bagiku dan mungkin aku juga berarti lebih baginya.
Hal ini mulai keketahui ketika aku semakin dekat padanya, seperti pada suatu sore dimana aku baru saja pulang dari sekolah, aku bertemu dengannya di depan tempat dia bekerja.
“Selamat sore!” Aku menyapanya.
“Selamat sore… Hiroshi baru pulang dari sekolah?”
“Begitulah.” Aku memperhatikannya sebentar. Senyum yang disunggingkannya terkesan sedikit dipaksa. Sama seperti senyum-senyum sebelumnya yang dia perlihatkan padaku.
“Apakah anda sudah selesai bekerja?”
“Ya, saya baru saja mau pulang.”
“Pulang duluan? Tempat ini belum juga tutup.”
“Manajer tidak perlu berada di tempat kerjanya sampai tempat tersebut tutup bukan? Apalagi tempat kerja yang seperti ini.”
“Begitukah…?” Aku terdiam sejenak. Hari ini dia tidak terlalu bersemangat. Caranya menjawab pertanyaan yang kulontarkan begitu datar. Kelembutan yang kurasakan darinya beberapa waktu lalu seperti telah hilang bersama dengan waktu.
Tidak, masalah bukan berada pada waktu. Aku kembali memperhatikannya sebentar. Dia sedikit menunduk, tapi tampak jelas bahwa dia tidak lagi tersenyum. Wajah yang coba dia sembunyikan dariku adalah wajah penuh kesedihan kerinduan.
“Mari…” Aku memecah kesunyian diantara kami.
“Eh…?”
“Anda mau pulang kan? Aku akan mengantar Anda.”
“Eh…!?” Jelas sekali ekspresi terkejut di raut wajahnya seperti berkata ‘Serius? Kok bisa-bisanya anak ini berkata seperti itu?’
“Kenapa? Aneh kah? Bukankah sudah tanggung jawab laki-laki untuk melindungi kaum wanita?” Aku berkomentar sedikit. “Mari, aku akan mengantar Anda sampai pintu rumah Anda.”
“A-a… Hmpf…”
“Ada yang aneh?” aku merasa dilecehkan saat dia menahan tawa.
“Ah, tidak… Maaf-maaf, saya hanya kaget saja.” Akhirnya aku diberkati dengan kesempatan untuk melihat senyumnya yang begitu indah sepenuh hati. Aku bersyukur setidaknya kesedihan yang ditampakkannya beberapa menit lalu telah pergi untuk sesaat. “Terima kasih banyak. Kalau begitu, mari…!”
Aku mengikuti langkahnya dan kami berjalan berdampingan. Selama beberapa menit aku hanya terdiam dan mengikuti ke mana wanita ini berjalan. Ke rumahnya kuharap.
Aku masih berjuang dengan perdebatan apakah yang harus kubicarakan selama kami berjalan bersama. Sebenarnya aku ingin menanyakan apa yang menyebabkan wajah sedihnya pada saat kami bertemu sore ini. Tetapi aku juga tidak ingin menyakiti perasaannya dengan mengingatkannya pada kenangan sedih. Aku tidak ingin lagi melihat wajah sedihnya di depanku.
“Hiroshi tinggal di mana?”
Aku tersentak dari lamunanku. Sebuah pertanyaan yang memulai percakapan ini, aku tidak menyangka bukan aku yang melontarkannya.
“Ah, aku tinggal di distrik 11.”
“Distrik 11? Wah, di daerah itu kan rumahnya bagus-bagus! Pekerjaan orangtua Hiroshi apa memangnya?”
“Dulu Ayah adalah seorang pelukis, sementara Ibu bekerja sebagai guru.”
“Dulu? Sekarang sudah tidak lagi?”
“Mereka sudah tidak ada.”
Aku menghela napas kecil. Entah mengapa aku tidak ada perasaan apapun saat mengatakan orangtuaku sudah meninggal. Aku hanya menunduk saat itu, jadi tidak tahu apa yang tampak di wajah teman-jalan-pulang ku ini.
Untuk beberapa saat, sunyi kembali bersama kami. Hanya suara langkah kaki dan suara angin semilir yang tetap setia menemani kami.
“Sekarang aku tinggal bersama Paman. Beliau yang membesarkanku sejak beberapa tahun lalu saat orangtuaku meninggal.” Aku meneruskan ceritaku supaya kesunyian ini tidak mengikuti kami terlalu lama. “Paman dan Bibi sangat menyayangiku. Kemudian, karena aku tinggal bersama mereka, sekarang aku jadi punya seorang adik. Tidak buruk juga hidup bersama mereka.”
Aku terdiam sejenak, memikirkan apakah ceritaku barusan secara tidak langsung membawa nuansa kesedihan ke dalam suasana yang kami rasakan. Tetapi, aku masih belum bisa mengangkat kepalaku. Aku mencoba meneruskan pembicaraan kami. “Anda sendiri bagaimana? Apakah anda tinggal bersama orangtua atau saudara?”
“Tidak. Aku hidup sendiri.” Sebuah jawaban singkat muncul setelah beberapa lama aku menunggu. Suara yang membawa jawaban pertanyaanku tersebut terdengar lemah dan penuh kepiluan.
Aku mengangkat kepalaku dan melihat wajahnya. Tidak bisa. Kepalanya tertunduk. Sinar matahari yang sudah begitu redup dari belakang kami membuatku semakin tidak mampu melihat raut wajahnya.
“Terkadang aku iri dengan orang dewasa saat mereka bisa hidup sendiri. Aku juga ingin hidup sendiri.” Cerita kulanjutkan. Kucoba untuk mengalihkan perhatiannya dari kesedihan cerita yang kubawa barusan. “Tetapi dulu ayahku pernah berkata bahwa dia mungkin sudah tidak bisa lagi menikmati hidup sendiri. Entah apa maksudnya aku tidak terlalu mengerti.”
“Beberapa dari orang dewasa sekarang memang tidak mampu hidup sendiri. Apalagi mereka yang sudah terikat dengan orang dewasa lainnya.” Sebuah kalimat terlontar. Aku belum sempat menelaah arti dibalik kalimat tersebut, temanku ini melanjutkan kalimatnya. “Jika orang-orang seperti ini memaksakan diri mereka karena suatu alasan, kesedihan tak terbatas akan menunggunya.”
Aku terhenti dari langkahku. Entah mengapa, walaupun aku tidak terlalu mengerti apa maksud dari kalimat yang barusan, tetapi aku merasa ada yang tidak benar. Ada yang mengganjal di pikiranku, tapi aku tidak mengerti apa itu.
“Ah, terima kasih sudah mengantarku sampai sini.” teman-jalan-pulangku ini sudah berdiri di depanku dan berbalik. Aku melihat sekitar, kami berada di dekat jembatan menuju distrik 2. Kemudian aku memperhatikan kembali wajah temanku ini. “Rumahku sudah cukup dekat dari sini. Di seberang sungai ini, belokan kedua ke kanan yang beratap biru dan berpagar hitam.”
“Ah, kalau begitu mari aku antar sampai depan rumah…” Aku menawarkan diri.
“Tidak perlu. Sudah cukup dekat kok. Lagipula, distrik 11 kan masih cukup jauh dari sini. Hiroshi masih perlu melewati 2 distrik lagi. Tidak apa, saya sangat menghargai kebaikan Hiroshi, tapi benar kok, tidak perlu.”
Aku menatap wajahnya. Sebuah senyum disunggingkan, seperti berkata ‘Aku tidak apa, pergilah…’ Tetapi, senyum ini masih tidak terasa sempurna. Masih ada sesuatu yang kurang di sana. Seperti ada yang ditahan, disembunyikan.
Sejak saat aku mengantarnya pulang itu, aku menemukan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin tidak pernah dipikirkan oleh orang lain. Apa maksud dibalik kata-katanya? Apa arti dibalik senyum terakhirnya sore itu? Seperti sebuah permintaan tolong yang dienkripsi, yang harus kupecahkan agar aku dapat menolongnya.
Sekian hari berlalu dan aku sudah berada kembali bersamanya, berhadapan di satu meja. Hanya kali ini, aku sudah menemukan dugaan jawaban yang aku butuhkan.
Hari itu dia tidak bekerja. Hari itu kami hanya berbincang-bincang ringan dan minum teh. Secangkir teh earlgrey hangat dengan aroma yang begitu harum.
“Benar tidak apa hari ini tidak bekerja?”
“Tidak apa, bisa diselesaikan besok. Lagipula, aku tidak terlalu terburu-buru. ”
“Benarkah? Anda yakin tidak ada alasan lain yang menyebabkan Anda enggan mengerjakannya sekarang?”
“Eh? Apa maksud Hiroshi?”
“Aku memperhatikan Anda selama beberapa waktu. Ingat saat pertama kali kita bertemu? Apa yang terjadi saat itu?” Sebuah ekspresi terkejut muncul, aku tetap melanjutkan, “Kemudian setelah itu, aku masih memperhatikan Anda sampai kemarin aku mengantar Anda pulang. Sangat tampak ada ketidakberesan pada Anda. Apakah Anda mengerti apa yang aku bicarakan?”
Tidak ada jawaban.
“Inti dari apa yang aku bicarakan adalah: ada sesuatu yang Anda pendam dalam diri Anda yang membuat diri Anda tampak berantakan dari luar.”
“Eh!?”
“Saya tidak tahu mengapa anda menyembunyikan atau memndamnya. Pasti ada alasan dibalik itu, aku tidak tahu.”
“Alasan apa yang dimaksud Hiroshi?”
“Entahlah… bukankah seharusnya Anda lebih tahu? Saya hanya bisa menerka-nerka saja. Terkaan saya, hal ini ada hubungannya dengan benda berkilau di jari manis Anda.”
Detik itu, lawan bicaraku ini segera menarik tangan kanannya, menyembunyikan benda yang kumaksudkan barusan. Dia tertunduk diam. Aku berhenti bicara kemudian mengangkat cangkir tehku dan meminumnya sedikit.
Tidak ada sepatah katapun keluar selama beberapa menit. Saat ini aku tidak perlu melihat wajahnya untuk menyimpulkan bahwa aku telah menyelimutinya dengan kenangan sedih masa lalunya. Aku tidak perlu melihat air matanya untuk menyimpulkan bahwa dia sedang menangis.
Lalu apa yang aku lakukan di sana? Menghakiminya? Merasa menang karena telah memojokkannya? Tidak. Justru sebaliknya. Dengan aku membuka cerita masa lalunya, aku berharap dia lebih terbuka padaku. Aku berharap aku dapat mendengar masalahnya dan membantu menyelesaikannya.
“Begitukah? Begitu tampakkah bagi orang lain?” masih terisak, lawan bicaraku ini mulai bercerita.
“Mungkin hanya aku…”
“Benarkah? Kalau begitu Hiroshi hebat sekali…” sebuah senyum, yang lagi-lagi sangat dipaksakan.
Kesunyian kembali bersama kami. Aku memikirkan apa yang harus kukatakan selanjutnya.
“Tidak apakah Anda memendamnya sendirian? Sebuah masalah tidak akan selesai bila Anda tidak memulai untuk menyelesaikannya bukan?”
“Hehe… itu semua sudah terjadi di masa lalu. Apa gunanya menceritakannya sekarang? Tidak akan ada yang berubah.”
“Setidaknya dengan bercerita, Anda dapat melepaskan bebannya bukan? Jika Anda tidak cerita, orang lain tidak akan tahu, apalagi mengerti. Hanya Anda saja yang merasakan sakitnya. Kalau Anda berbagi, Anda tidak akan merasa sakit sendirian. Walaupun tidak sepenuhnya, orang lain akan sedikit lebih mengerti Anda dan beban Anda akan terangkat sebagian. Apakah saya salah?”
Aku berhenti sebentar untuk menarik napas. Kemudian aku melanjutkan.
“Aku bukan bermaksud mencampuri urusan Anda atau mengorek tentang masa lalu Anda. Aku hanya tidak ingin melihat Anda melamun murung, tertunduk sedih, atau sampai menangis.”