Matahari masih enggan menyingkap tabirnya.
Namun angin musim semi telah berhembus dengan lembut
mengenggam sekelopak bunga merah muda
melewati celah yang tidak sengaja terbuka
dan turun dengan tenang di lanskap penciuman
Ah, wangi bunga sakura….
‘Jodoh itu ga akan kemana-mana’. Siapa yang ga kenal dengan pemeo itu? Ibuku juga selalu mengatakan itu. Dengan rautnya yang menenangkan, beliau mengucapkan kalimat itu dengan penuh arti, menutup kisah tentang pertemuan dirinya dengan ayah yang diceritakan kepadaku kala aku masih berumur jagung.
Umurku memang sudah melewati standar umur pria menikah, 25 tahun. Di umur ku yang sudah kadung 27 tahun ini, aku masih saja melanglang buana di dunia perbujangan. Sahabat-sahabatku yang rata-rata sudah menikah, ga pernah berhenti-hentinya menyemangatiku soal cinta. Mau apa daya lagi, cewek-cewek yang berkeliaran di sekitarku, walau kekaguman memang muncul dalam hati, tidak menimbulkan keinginan untuk menikahi salah satunya. Dan dengan jawaban yang selalu samalah aku selalu menghindari kekesalan dan kekecewaan sahabatku: ‘tenang aja…jodoh mah ga akan kemana-mana….’dan respon mereka pun selalu sama : manyun.
Bukan berarti aku ingin membujang seenaknya, kekhawatiran soal ini pun memang sempat terpikirkan. Namun perasaan khawatir tersebut segera teralihkan ketika aku bertemu dengan pekerjaan-pekerjaanku. Hal ini ternyata membuat sahabat-sahabat –sekaligus sebagai rekan kerja- gerah.
“Aku mau kok menikah denganmu, Dit. Lagipula kita kan saling suka…”, salah satu sahabat cewekku, Rani, mengatakan itu dengan tiba-tiba di ruanganku.
“Lagi konslet ya?”, langsung saja kubalas cepat.
“Aku serius..!”. Kalau diperhatikan dengan seksama, wajahnya memang menyiratkan keseriusan, walau aku masih sangsi.
“Aku dua-rius..”, kesangsianku kepadanya kubalas dengan candaan.
“Dit!”
“Kita memang saling suka…tapi ‘ga ada saling mencinta dalam persahabatan’ kan? Lagipula kenapa kamu, orang yang takut pernikahan, tiba-tiba berkata seperti itu kepadaku? Cukup menyeramkan tahu…!”
“Karena aku tahu kita adalah jodoh?”
“Dari mana tahunya mba….?”, ledekku.
“Kalau begitu… Kamu tahu dari mana kalau seseorang itu adalah jodohmu, hah??!!”
Aha…begitu ya.. Aku sekarang mengerti maksud tindakanmu ini. Ternyata kamu masih mengkhawatirkanku ya…sangat..
“Tuhan akan memberitahuku kok..Tenang saja…hehe..”. Jawaban yang tak pernah bosan-bosannya kukeluarkan plus mimik santai yang bagi sebagian orang cukup menyebalkan.
“rrrgh….Ga bisa! Sekarang kamu harus cari dengan serius! Sana ke luar negeri, kalau di sini emang ga nemu yang cocok buatmu!!..”
“Hoi-hoi…jangan seenaknya mba!”
“Ini paspor dan visamu! Gaweanmu biar kami yang urus! Pokoknya kalo dalam seminggu kamu ga nemuin seseorang…kami mogok bekerja…”
“hoi-hoi…”
~~nada telepon genggamku berbunyi ~~
Aah…siapa pagi-pagi buta gini yang udah nelepon?? Kalau telepon genggamku tidak berdering, mungkin lamunanku akan berlanjut sampai ‘Gimana si Rani, Joko, Rasna, dll menculik –benar-benar dalam arti denotatif- dan mendepakku secara sepihak ke Jepang ini’.
Ternyata Joko.
“Pagi~~ Aditya~? Gimanaa hotel yang udah kami siapkaan? Mantep tenan ka~n?”
“Mantep pale lu peyang..! Aku ga habis pikir kalian masih bisa-bisanya melakukan hal ini di kala bisnis kita sedang ga karuan! Lagipula kenapa aku harus cepet kawin? Kenapa kalian yang repot plus bingung ngurusin masalah ini?? Kenapa caranya harus begini??!!”. Aku udah berkali-kali menanyakan hal ini kepada orang-orang yang telah tega menculik dan aku berharap mendapatkan jawabannya saat ini juga, hari ini juga. Toh jika alasannya ga masuk akal, aku bisa langsung pulang. Masa bodoh dengan ancaman Rani.
“Tenang dulu boos…”, aku mendengar helaan napas Joko, “Kami semua melakukan ini untuk kebaikan kamu juga..”
“Jelaskan..”
“Sebenarnya kami benar-benar ingin membantu kamu untuk mencari jodohmu…”
“Ooh…cuman itu??”
“Ga juga sih…”
“Lalu?”
Selang satu sampai dua detik aku tidak menerima jawaban apapun dari Joko. Semakin lama pun helaan napasnya menghilang dari pendengaranku. Jangan bercanda ya. “Hey, Jok! Jawab!”. Kok hening?? “Joko! Kalau kamu ga jawab, aku bakalan pulang sekarang juga..!! JOKO??!!”
“…SEWLAMAT ULANG TAUN KE 28, ADITYA!!!..”,teriak Joko tiba-tiba.
Buseeeet!!! Dia teriak tepat di telingakuuuu…..bagai tamparan tepat di gendang telingaaa….Besar teriakannya mungkin sebanding dengan pembesaran ukuran tulisan ‘selamat ulang tahun’nya. Ingin kuhardik dia karena teriakannya yang mengilukan tapi karena dia meneriakki dengan ucapan selamat, hardikanku kutahan. Anggap saja sebagai terapi shock di pagi hari (yang indah)…
“Sebenarnya liburan seminggu ke Jepang ini sebagai hadiah ulang tahunmu dari kami. Kami sengaja membuatmu dongkol dengan berbagai kejadian yang kami rencanakan dan akibatnya…sebuah kejutan besar untukmu!!! Kau pasti lupa dengan hari besarmu sendiri kan?”
“…rrr….Iya…aku lupa…….” Aku memang lupa untuk ke sekian kalinya. Perasaanku sekarang bercampur aduk. “Tapi kenapa harus begini caranya? Sampai pake acara culik segala lagi! Keterlaluan kalian….!”
“Hahaha…kalau ga pake cara gini, kamu pasti lebih memilih gaweanmu daripada liburan kan..?”, jawab Joko tepat. “O ya, kami hanya memberikan akomodasi hotel selama seminggu saja loh. Biaya untuk kehidupanmu seminggu di sana pake duitmu saja yaa..hehe…”, lanjut Joko cepat. Ya~, apa sih yang bisa aku harapkan? “Gunakan waktu seminggu ini sebaik-baiknya untukmu. Membangun strategi bisnis baru, semangat baru, pikiran yang segar, apapun kek. Pokoknya selamat bersenang-senang! Kamu pantas mendapatkan liburan ini dari kami karena dedikasimu sangat besar –beri kami kesempatan untuk beraksi laah-. Dan semoga kamu cepet dapat jodoh….”.
Hahaha..ujung-ujungnya jadi soal ini juga. Tak apa-apalah… “Hh…Baiklah… Terimakasih banyak, Joko dan semuanya…”
“Maaf juga soal kemarin malam. Kamu udah dipaksa, ditarik, dibekep, di-“
“Yayaya..sudahlah…Asal kalian ridho gaji kalian bulan ini dipotong…”. Aku mendengar helaan panjaang berat Joko sebagai jawabannya. Apa boleh buat. Ini adalah balasan yang cukup setimpal. Mau tidak mau mereka harus terima.
Akhirnya pembicaraan aku dan Joko telah usai, diakhiri dengan pesanku untuk menjaga ibuku dan menyisakan berbagai pikiran dan rencana kegiatan yang akan kulakukan di Jepang ini. Tidak boleh dilewatkan, tidak boleh kusia-siakan. Bisa saja aku mendapat relasi baru di sini, tentu saja pengalaman dan semoga…jodoh. Hhh….
Kelopak bunga sakura yang telah membangunkanku di pagi hari masih tergenggam di tangan. Wanginya masih dapat tercium dengan baik. Ah…Di mana aku akan menyimpannya sementara ya? Lemari kayu kecil di sebelah kasurku seperti memanggil-manggil : ‘simpan barang berhargamu di sini~~’ dan setelah aku menyimpan kelopak sakura tepat di pojok permukaan lemari, aku mengambil tumpukan kertas di sana yang ternyata adalah katalog-katalog pariwisata.
Aku berharap aku bisa tahu dimana aku sekarang karena Joko tidak memberitahu apapun tentang kota apa yang sedang kusinggahi ini –dan bodohnya juga aku lupa menanyakannya… Haha…Katalognya pun penuh dengan coretan-coretan merah khas Rani! Tulisan ‘u r here!’ dan tanda panahnya yang menunjukkan ikon hotel menjelaskan dimana aku sekarang. Ooh…ternyata aku sedang berada di kota X tooh… Aku pernah mendengar tentang kota ini. Kemudian katalog-katalog berikutnya memuat objek pariwisata di kota-kota sebelah : Kota Sakuragaoka, lalu Kota bla-bla…dan bla-bla…Hm? Kertas putih apa ini? Tebal dan berlipat-lipat…….BUSET! Ini daftar titipan oleh-oleh semua!!! ……. eMTeeeee …kaliaaan!!!
Untungnya itu cuman teriakan dalam hati tapi tetap berefek berupa mimik wajah ‘nyengir kuda’ dan tangan yang agak meremas kertas putih. Untuk sebuah kertas permohonan, itu termasuk yang terbesar yang pernah kudapat, baik dari ukurannya, isinya, dan hurufnya. Hhh…. Ada yang minta aksesoris itu lah, pernak-pernik apalah, sandang pangan khas sini lah, dll dah. Kalau dipikir-pikir lebih lanjut sih, ga masalah untuk belanja belanji barang-barang kayak ginian buat mereka. Akan tetapi pernyataan ‘NB : pake duitmu dulu ya, onega~~i <3 !!’ bikin aku menghela napas lebih jauh lagi….
Baiklaaaah….!! Apa pun yang terjadi, kehidupan pertamaku di Jepang akan segera dimulai!! Osu!!
Aah…ngomong-ngomong ….pintu kamar hotelnya masih terkunci…
Sial..