Dalam mimpiku aku mengejarnya. Di duniaku yang sempit ini aku dikejarnya. Mimpiku bagai kaleidoskop kehidupanku, berkelebat, berputar. Warna-warni waktuku silih berganti di depan mataku, semuanya berlalu dengan cepat. Cepat datang, dan cepat pergi. Bagaikan kabut pagi yang akan hilang ketika fajar menjelang. Kehidupanku hanya manifestasi ilusiku semata.
Akan tetapi, ilusi-ilusi tadi semakin lama semakin nyata. Warna-warni yang selalu mengaburkan pandanganku kini menjadi jalan setapak di bawah telapak kakiku. Dan kabut yang selalu menyelimuti hatiku, kini memudar, digantikan oleh sosoknya yang kelam, namun hangat.
Dia mengejarku.
Atau aku yang mengejar dia?
Tuan sesosok yang kelam, bisakah Anda menceritakan siapa diri Anda sebenarnya?
Kenapa Anda ada di sini?
Ke mana kabut-kabutku yang selalu menghantuiku?
Kenapa warna-warni yang selalu membayangi pandanganku kini menjadi jalan setapak menuju Anda?
Kenapa Anda begitu hangat Tuan?
Kenapa jantungku berdebar setiap kali Tuan muncul?
Tolong jawab aku..
==========
“Chizu,”
“Yap?”
“Menurutmu, kucing di sana lagi mikirin apa ya?”
“Dunno,”,jawab Chizu sambil menyeruput tehnya.”Tanya aja.”
Bnm,nb v“Betedobelyu, aku teringat kucing di rumahku.”
“Kucing jalanan yang itu? Yang takut sama tikus?
“Hei, tikusnya itu ukurannya hampir dua kali kucingku tahu, wajar dong kalau dia takut?”
Chizu menatap Cynthia dengan tatapan setengah menghina seakan mengatakan ‘rumahmu seperti apa sampai tikus pun berukuran dua kali lipat dari kucing’. Cynthia membalas tatapannya dengan tiupan menggunakan sedotan milkshake-nya.
“Begini nih, yang bikin kamu susah dapet cowok, jorok!” kata Chizu sambil mengelap mukanya dengan sapu tangan.
“Sigh..apakah punya pacar merupakan keharusan di Jepang?”tanya Cynthia.
“Hoo, jadi kamu mau jadi perawan tua di sini?”balas Chizu dengan senyuman licik.
Yep, itulah salah satu percakapan sehari-hari antara Cynthia dengan Chizu. Cynthia merupakan seorang wanita asal Indonesia yang saat ini sedang dalam masa studi S2 di Jepang. Seorang wanita simpel namun ambisius yang berjuang meniti kariernya karena pengaruh masa lalunya yang gelap. Wanita yang menjadi lawan bicara Cynthia adalah Chizu, seorang mahasiswa tingkat 2 di satu-satunya universitas di kota itu. Tidak banyak hal menarik yang bisa diceritakan dari kota ini, Sakuragaoka, kecuali sebuah cafe di pusat kota, Rosalia, yang merupakan cafe dengan hidangan pastry sebagai sajian andalan (“OH god, uang bulananku bisa habis gara-gara pastry sial ini!”, kata Cynthia). Selain itu, ketika musim semi, pemandangan yang terhampar ketika pandangan dilayangkan keluar jendela sungguh memukau, Sakuragaoka bagaikan kota yang diselimuti serpih merah jambu bunga sakura (awal mula nama cafe Rosalia). Namun tidak dapat dipungkiri lingkungan di kota Sakuragaoka terawat dengan baik, terima kasih kepada warganya yang disiplin.
Cafe Rosalia pulalah, yang menjadi awal persahabatan Cynthia dengan Chizu dan sekaligus menjadi tempat biasa Cynthia dan Chizu bertemu ketika akhir minggu. Hari ini pun, di Sabtu sore yang indah ini, Cynthia dan Chizu sedang duduk-duduk di cafe menghabiskan waktu sampai malam.
“Coba lihat Cynthia,”kata Chizu sambil menyolek pundak Cynthia,”sakuranya indah banget ya.”
“Pemandangan yang tidak akan pernah ada di negara asalku,”kata Cynthia sambil ikut memandangi pohon-pohon sakura di luar.”Pas sekali kita duduk di sini, dekat dengan jendela yang menghadap ke padang sakura.”
Chizu tidak lanjut berbicara. Ia tetap memandangi sakura di luar dengan sambil memangkukan dagunya ke tangan kirinya. Pandangannya seakan berarti sesuatu yang lain. Seperti memandangi hal yang mengingatkan pada masa lalunya.
“Halo kakak,”panggil Cynthia.”Halo?”
Chizu terbangun dari lamunannya. Sesaat ia nampak bingung, namun dengan cepat ia kembali ke keadaan dirinya yang super kalem.
“Ah maaf..tiba-tiba bayangan lama muncul di kepalaku.”
“Kamu sakit Zu?”tanya Cynthia.
“Aku baik-baik saja,”kata Chizu sambil tersenyum lembut,”ya Sannee-chan?”
“Harusnya kalau kamu ada apa-apa, ceritakan padaku,”kata Cynthia sambil menatap Chizu dengan pandangan ke-kakak-an.
“Sannee-chan baik sekali..tapi aku tidak mau merepotkanmu, kuliahmu di sini kan sudah cukup berat..”
“Haha, tidak cukup berat sampai tidak bisa menjadi teman yang baik untuk temanku yang baik. Ya kan?”tanya Cynthia agak menggoda.
Chizu menjawabnya dengan senyuman yang hangat.
=====
Keesokan harinya.
Hari Minggu menjadi hari pelampiasan bagi Cynthia dan Chizu setelah lolos dari jebakan kesibukan kuliah yang menyiksa. Seperti biasa, mereka bertemu di Rosalia. Setelah beberapa menit berdiskusi di dalam cafe, mereka biasanya langsung pergi menuju tempat yang disepakati. Entah itu ke taman kota, pusat perbelanjaan, game center, atau bahkan perpustakaan.
Namun tidak untuk hari itu.
Chizu lari terengah-engah. Hari ini Chizu telat bangun, padahal Chizu berjanji akan bertemu di Sannee-chan di Rosalia pukul 10.00. Walapun Cynthia tidak pernah memarahi Chizu jika ia melakukan kesalahan, namun Chizu tetap merasa bersalah jika sampai mengecewakan sahabatnya satu-satunya.
Sedikit lagi, gumam Chizu. Fisiknya yang tidak terlalu kuat membuatnya gampang kelelahan. Sesekali dalam benaknya ia menyalahkan dirinya yang begitu lemah dan tidak pernah berguna bagi orang-orang yang berarti baginya.
Ah itu dia Rosalia, ujar Chizu dalam hati. Namun Rosalia tampak berbeda hari ini. Dari tempat Chizu sekarang terlihat beberapa orang sedang berdiri di depan Rosalia. Yang cukup mengejutkan bagi Chizu Sannee-chan merupakan salah satu orang yang berdiri di depan Rosalia. Cynthia sedang memandang ke arah padang sakura yang terhampar di seberang Rosalia sambil sesekali melirik jam tangannya.
“Hai Cynthia,”panggil Chizu agak terengah. “Kenapa masih di luar?”
“Oh Chizu tumben hari ini telat, kesiangan?”tanya Cynthia sambil menyeringai dan mengacak-acak rambut Chizu yang tergerai berantakan karena terpaan angin ketika lari tadi.
“Auuh..maaf Sannee-chan.. iya pagi ini alarmku tiba-tiba tidak berdering..”
“Sekarang hari istimewa Rosalia,”potong Cynthia.
“Ha?”
“Coba lihat ke dalam.”
Chizu berjalan mendekati pintu masuk Rosalia. Ia kaget melihat keadaan di dalam Rosalia. Di dalam cafe meja-meja yang ada sudah penuh ditempati oleh orang-orang. Keadaan di cafe pun terlihat lebih ceria, dekorasi bunga sakura dipasang di dinding-dinding dan di meja-meja pelanggan. Ini cukup kontras dengan suasana normal Rosalia yang sehari-hari (atau ketika Chizu dan Cynthia bertandang ke situ) yang tenang diiringi dengan musik-musik lembut diselingi lagu-lagu mellow.
Yang tidak kalah mencolok lagi adalah para pelayannya. Seragam pelayan Rosalia yang biasanya memberikan kesan setengah formal namun elegan kini terlihat lebih santai. Pelayan pria mengenakan T-shirt putih dengan gambar 3 kelopak sakura di salah satu lengannya dan tulisan dalam kanji yang berarti “Bunga” di bagian belakang sebelah bawah baju mereka. Pelayan wanitanya mengenakan baju lengan panjang berwarna putih dengan bordiran bunga sakura di lengan baju mereka, dibuat berputar dari ujung lengan pangkal lengan baju. Baju pelayan wanita juga bertuliskan kanji yang sama, yang terletak di bagian belakang baju mereka dekat lubang leher. Yang cukup menarik bagi Chizu adalah rambut pelayan wanita yang dihiasi dengan hiasan seperti rangkaian bunga sakura yang dibentuk sehingga menjadi ikat rambut.
Akhirnya, Chizu menemukan pusat dari segala perubahan ini. Di meja dekat kasir cafe tampak sebuah spanduk berwarna putih dengan tulisan berwarna merah jambu yang berbunyi : “100 Tahun Cafe Rosalia!! Mari kita rayakan dengan pastry spesial a la Rosalia : Sakura Demon!”
“100 tahun?” pikir Chizu.
“Hari ini hari ulang tahun Rosalia yang ke-100. Sebenarnya bukan benar-benar Rosalia telah ada dari 100 tahun yang lalu, tapi lebih tepatnya merayakan awal mula legenda yang menjadi awal mula dari cafe Rosalia.”kata Cynthia menjelaskan sambil berjalan ke arah Chizu. Chizu menatap Cynthia sembari Cynthia menjelaskan.
“Dan itulah kenapa akhirnya aku berakhir di sini, di depan Rosalia.”Cynthia melanjutkan.”Orang-orang di dalam sudah terlalu banyak, lagipula aku tidak ingin menunggu di dalam sambil berdiri. Mungkin orang-orang yang berdiri di luar juga sama denganku.”
“Huff..acara hari ini jadi runyam gara-gara aku lupa hal kecil seperti ini. Maaf ya Chizu,”
Chizu segera menghadap ke arah Cynthia. Cynthia cukup terkejut dibuatnya karena gerakannya yang tiba2.
“Tidak..”gumam Chizu.
“Kenapa Chizu? Mungkin kita bisa meminta tempat khusus ke pemilik cafe, toh kita kan pelanggan tetap.” kata
Cynthia sambil tersenyum menghibur.
“Bukan itu..maksudku tidak apa-apa..acara kita berdua hari ini ‘kan senang-senang, sekali-sekali tidak di Rosalia juga tidak apa-apa..”
Puk!
“Aduh!”pekik Chizu.
Cynthia menyentil dahi Chizu.
“Sakit..”rintih Chizu sambil mengusap-usap dahinya.
“Itu supaya kamu lebih semangat. Hehe. Merasa lebih baik?”
“Hu-uh!”jawab Chizu dengan semangat sembari tersenyum. Tampaknya hari ini akan menjadi hari yang agak berbeda dibanding hari-hari biasanya.
“Bagaimana kalau kita ke padang sakura di sana?”tanya Cynthia untuk memulai kegiatan hari itu.
“Ke sana?”
“Bukan ide baguskah?”
“Kakekku pernah bilang, dibalik indahnya padang bunga sakura yang bermekaran di musim semi di kota ini, sebenarnya ada sebuah rahasia yang kurang mengenakkan.”jelas Chizu.
“Oh ya?”
Chizu mengangguk.Cynthia membalas anggukan Chizu dengan pandangan setengah heran, setengah tidak percaya.
“Tapi kalau Sannee-chan memang mau ke sana aku tidak menolak..”
“Tidak usah, lebih baik tidak menantang adat lokal, ya kan? Kalau kata pribahasa di kampungku, di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung.”,kata Cynthia.
“Umm…”
Hening sejenak. Cuaca hari itu lumayan bersahabat, tidak terlalu panas namun tidak dingin juga, sambil diselingi angin sepoi-sepoi. Sakura yang berguguran makin menambah energi positif yang dirasakan Chizu, Cynthia, maupun orang-orang di sekitar situ. Ditambah dengan suasana meriah yang dihasilkan oleh cafe, atmosfer hari itu benar-benar membawa good mood bagi siapa pun yang masih waras.
“Sebenarnya aku lebih ingin di sini Tianee-chan..”
“Tertarik dengan pestanya ya Chizu?”
Wajah Chizu memerah. Untuk menutupi wajahnya yang benar-benar memerah, ia memalingkan wajahnya dari pandangan Cynthia. Tampaknya ada sesuatu di Rosalia yang membuatnya begitu tersipu malu.
“Hooo…tertarik dengan orang di dalamnya ya?”tanya Cynthia menggoda.
NGEK.
“Aduh Chizu..kenapa aku dicubit?”rintih Cynthia sambil mengusap perutnya yang jadi agak memar karena cubitan Chizu.
“Tianee-chan jahat..”
“Hahha..aku kan cuma menggodamu..jangan dibawa serius Zu..”kata Cynthia sambil tetap memegangi perutnya namun dengan sedikit menahan tawa.
“Ah Tianee-chan kenapa tertawa?”tanya Chizu dengan agak teriak.
“Ssst jangan keras-keras nanti semua orang di dalam melihat ke arah kita Chizu..terma..”
DUK. Sekarang giliran kaki Cynthia yang menjadi korban.
“Aduh!!”pekik Cynthia.”Ampun Chizu, aku cuma bercanda..”
Sambil setengah menundukkan kepala untuk menutupi wajahnya yang masih merah padam, Chizu berjalan mendekati pintu Rosalia dan melongokan kepalanya ke dalam.
“Yang mana Zu?”.Cynthia ikut melongokkan kepalanya ke dalam.
Chizu mengangkat telunjuknya dan mengarahkannya ke salah satu pojokan Rosalia.
“Yang mana? Jangan cuma ditunjuk..”
“Itu..yang duduk di pojok, dekat jendela yang dihias dengan bunga sakura..”
“Cowok rambut cepak itu?”
“Iya..tapi bukan yang rambutnya berwarna emas..rada norak.”gumam Chizu. ”Sebelahnya.”
“Waw. Seleramu bagus juga Zu.”
Chizu makin memerah. Warna kulitnya yang pucat membuat warna kulitnya semerah bunga sakura.
“Huff Chizu..”kata Cynthia sambil menghela napas.
Cynthia geli sekaligus iba melihat temannya yang lugu itu. Di satu sisi sikapnya dalam menghadapi pergolakan batin karena cinta agak kekanak-kanakan, mengingat usianya yang hampir mencapai 20 tahun. Di sisi lain, ketidaksanggupan Chizu untuk menyampaikan apa yang ia rasakan, khususnya perasaan yang kini sedang ia rasakan, membuatnya sedih, karena ia tahu memendam api cinta yang tak kunjung padam karena tak tersampaikan sungguh menyiksa si empu api tersebut. Cynthia tahu betul hal tersebut, karena pengalamannya di masa lalu yang pernah hampir membuatnya gila.
“Tianee-chan..”. Chizu beralih dari pintu ke hadapan Cynthia. Wajahnya masih semerah sakura, dan Chizu mendapat perasaan akan semakin merah.
“Ya?”
“Tianee-chan pernah jatuh cinta?”
Pertanyaan Chizu kali ini benar-benar membuat Cynthia kehilangan satu detak jantungnya.
“Ahh..kenapa kamu menanyakan hal itu Chi?”
“Aku ingin tahu..bagaimana sih rasanya jatuh cinta?”.Chizu terdiam sejenak.”Kenapa begitu sakit?”
Cynthia menggenggam pergelangan tangan Chizu.
“Kita ke taman yuk?”ajak Cynthia.
“Tapi Tianee-chan,”Chizu sedikit melawan,”aku masih ingin di sini..”
“Sudahlah, kamu pasti akan merasa lebih baik setelah ini. Janji, ya?”
Chizu menyerah.
Taman yang dimaksud Cynthia tadi adalah taman kota kebanggaan Sakuragaoka. Tamannya tidak begitu besar, namun tertata dengan rapi, dengan sebuah replika pohon sakura yang dibuat sedemikian rupa sehingga dapat “mengembangkan” bunga sakura ketika musim semi tiba. Tamannya sendiri secara kasar berbentuk lingkaran, dengan replika pohon tadi sebagai pusatnya. Di sekeliling “pohon” itu terdapat bangku-bangku taman yang terbuat dari kayu. Terdapat sebuah drinking fountain di salah satu sudut taman tersebut. Di sisi lain terdapat stall kecil yang biasanya digunakan oleh pedagang es krim untuk berjualan. Sisa dari area taman tersebut dipenuhi oleh rerumputan dan pohon. Selain pohon replika yang menjadi ciri khas taman tersebut, sebuah fenomena alam yang disebut halo, acapkali muncul di langit di atas taman tersebut. Para tetua Sakuragaoka menyebutnya ‘lingkaran salju malaikat’ yang menandakan turunnya malaikat pemberi berkah kepada orang yang beruntung di taman tersebut.
Bagi Chizu , taman tersebut memiliki arti tersendiri bagi dirinya. Taman tersebut menjadi tempat bermainnya ketika kecil. Bersama teman-temannya, Chizu menghabiskan masa kecilnya bermain petak-umpet, kejar-kejaran, maupun menangkap serangga. Chizu bersyukur taman yang ia dan teman-temannya juluki sebagai ‘Taman Sepatu’ karena setiap kali mereka pergi ke taman itu, mereka hampir-hampir tidak pernah mengenakan sepatu, batal mengalami penggusuran ketika walikota Sakuragaoka ketika Chizu masih kecil mencanangkan program pembaharuan kota untuk memajukan kesejahteraan penduduk Sakuragaoka.
Di taman itu pulalah, ia mendapatkan hadiah terbaik yang pernah ia dapatkan dari orang yang berarti bagi dirinya.
“Nah Chizu,”kata Cynthia ketika mereka telah sampai di taman,”harusnya di sini kamu akan merasa lebih tenang.
“Ayo duduk”.
Mereka memilih bangku yang agak jauh dari jalan masuk ke taman. Kemudian, Cynthia bangkit lagi dari duduknya dan berjalan ke arah stall yang saat ini sedang menjual gula-gula (“Yang biasanya berjualan es krim saat ini sedang dalam perjalanan ke Tokyo, jadi sampai dia bisa berjualan lagi saya yang menggantikan”,jelas pedagang gula-gula).
“Sayang padahal es krim di sini lumayan enak, ini untukmu Chi,”kata Cynthia sambil memberikan salah satu gula-gula kepada Chizu.
“Terima kasih Tianee-chan.”
“Sama-sama Chizuku yang lucu”balas Cynthia sambil nyengir lebar.
“Tianee-chan..”jari Chizu sudah dalam posisi siap mencubit.
Cynthia mengacak-acak rambut Chizu. Menerima perlakuan seperti itu, Chizu seperti diperlakukan sebagai anak-anak. Namun Chizu tidak menolaknya, karena ia memang butuh seseorang untuk bersandar saat ini. Ia menurunkun tangannya, sambil mulai mengulum gula-gulanya.
“Sudah merasa lebih baik Chizu?”tanya Cynthia.
Cynthia duduk bersila di sebelah kanan Chizu, tangan kirinya sekarang sedang mengelus-elus rambut Chizu. Cynthia menghadapkan wajahnya ke Chizu sambil agak menunduk, rambutnya yang panjang agak sedikit menutupi matanya. Sedangkan Chizu, merasa agak canggung karena belum pernah merasakan rasanya ditenangkan oleh seorang ‘kakak’, duduk dengan kaku, kedua kakinya merapat dengan kedua tangannya menggegnggam pegangan gula-gulanya erat-erat. Kepalanya sedikit menunduk selain karena tangan Cynthia yang mengelus-elus kepalanya juga karena malu sekaligus canggung.
“Biasanya”,Cynthia mulai membuka percakapan,”ketika aku sedang dirundung masalah, aku suka melarikan diriku ke suatu tempat yang biasanya aku anggap terbuka namun cukup sepi sehingga suara hatiku yang memberontak bisa aku dengar baik. Biasanya sih, aku lebih memilih di taman. Namun karena di kota asalku aku lebih sering menyendiri di taman kampusku daripada taman kota.”
Chizu mendengarkan dalam sunyi. Angin mulai berhembus sepoi-sepoi ketika Cynthia mulai berbicara, mengibarkan rambut hitamnya yang selembut sutra. Beberapa cowok yang lewat di depan mereka menolehkan pandangan mereka ke arah Cynthia seakan sedang menatap seorang bidadari.
“Dalam kesunyianku, aku bisa merasakan apa yang diriku sebenarnya inginkan. Aku tahu, jawaban itu ada di dalam sini,”Cynthia meletakkan telapak tangannya di dada Chizu,”namun pikiran kadang terlalu bising sehingga jawaban yang aku cari tak kunjung muncul.”
“Dapatkah aku menemukan jawabannya Tianee-chan?”tanya Chizu tanpa melihat ke arah Cynthia.”Kadang aku merasa sakit, tapi aku juga takut menemukan kebenarannya, rasanya berat bagiku untuk melangkah lebih jauh..”. Genggamannya menjadi semakin erat.
“Kamu harus mencobanya, ya? Justru itulah yang menyenangkan dari merasakan cinta; pahit manisnya begitu menyenangkan sekaligus begitu menyakitkan. Walaupun kamu merasa sakit, namun debaran itu begitu menggugah bukan?”. Cynthia menatap Chizu dengan lembut.
Chizu terdiam. Genggamannya mengendur. Telapak tangannya tampak merah bekas dari cengkramannya barusan.
“Oh ya, aku belum menjawab pertanyaanmu ya? Hmm gimana mengatakannya ya..kalau dibilang pernah sih pernah, tapi pengalamanku di masa lalu bukan hal yang menyenangkan.”
Seketika Chizu mendongak mendengar ucapan Cynthia barusan.
“Tidak menyenangkan?”
“Begitulah”jawab Cynthia sambil tersenyum. Kepedihan tersirat dari senyumnya, walaupun hanya sekilas. Akan tetapi Chizu menyadari perasaan sahabatnya tersebut, dan kembali merasa bersalah.
“Maaf..”
“Ah biasa saja kok Chizu!”sanggah Cynthia berusaha membangkitkan mood Chizu kembali.”Kata-kataku barusan jangan terlalu dipikirkan, oke?”. Chizu mengangguk pelan. Ia kembali ke tenggelam dalam kediaman dirinya. Tatapannya mengarah ke tanah dekat kakinya, terdiam.
Cynthia menunggu. Menunggu sahabatnya untuk mengeluarkan perasaan yang ia rasakan; Cynthia tahu seseorang yang sedang dalam keadaan seperti Chizu tidak boleh memendamnya sendirian.
“Tianee-chan..boleh aku curhat sama Tianee-chan?”
Akhirnya keberanian itu muncul, kata Cynthia dalam hati.
”Boleh saja Chizu. Curhat tentang apa?”tanya Cynthia walaupun ia tahu isi curhatannya Chizu bakal tentang apa.”Aku siap mendengarkan.”
“Tianee..Tianee tahu ‘kan tadi, cowo yang aku tunjukkan di dalam cafe?”
“Yap. Kenapa dengan cowo itu?”Cynthia pura-pura memancing Chizu.
“Mm..bagaimana mengatakannya ya..”Chizu memainkan jari-jemarinya,”dia..”
Chizu mulai bercerita. Seperti yang sudah diduga Cynthia, Chizu jatuh cinta kepada cowok tadi. Bernama Konno Ryou, ia merupakan seorang mahasiswa di universitas tempat Chizu kuliah, namun beda jurusan. Chizu menyukai Ryou sudah sekitar 2 tahun yang lalu, namun belum pernah sekalipun mengutarakan perasaan sekalipun kepada Ryou. Selidik punya selidik ternyata Chizu sudah menyukai Ryou semenjak kelas 3 SMA, akan tetapi selama kelas 3 Chizu lebih banyak memendam perasaannya karena harus menyiapkan diri untuk menghadapi ujian nasional masuk universitas. Hati Chizu melunjak ketika mengetahui Ryou juga diterima di universitas yang sama dengan Chizu. Ia berharap ketika di kuliah nanti ia bisa menjalin hubungan dengan Ryou, sekaligus memperbaiki kesalahannya di saat SMA lalu. Sebenarnya Chizu bukannya tidak mau berusaha, akan tetapi Chizu belum memiliki keberanian yang cukup untuk melangkah mendalami dunia percintaan. Tapi waktu akhirnya yang membuktikan. Lama-kelamaan, ia melupakan perasaannya ketika kehidupan kampus sudah mulai membuat Chizu tenggelam dalam kesibukan. Akhirnya, 1 tahun yang telah ia lewati tidak membuahkan apa-apa bagi Chizu. Hatinya kembali harus merasakan api cinta yang tak kunjung padam. Di ujung tahun pertamanya, ia kembali berniat untuk mengejar Ryou.
Chizu berhenti sejenak. Ia menarik napas dalam-dalam. Angin bertiup semilir membuatnya rambutnya yang tergerai sebahu melambai-lambai, memperlihatkan lehernya yang jenjang. Kadang, Cynthia mengagumi pesona Chizu yang apa adanya. Mungkin dia bukan yang terbaik, tapi dia merupakan sesuatu.
“Tianee-chan tahu kalau Ryou itu sering ke Rosalia juga?”
“Tidak, sejak kapan?”
“Belum lama sih, kira-kira 1 atau 2 bulan yang lalu,”
“Oh ya? Kenapa aku tidak pernah menyadarinya ya..”
Chizu melanjutkan kembali.
Tahun kedua dimulai. Chizu menata perasaannya kembali. Ia merenungi hal-hal yang telah ia lewati, telah ia lewatkan, bagaimana cinta itu tanpa sadar menjadi pemicunya untuk bertahan di satu tahun pertamanya yang keras, dan membayangkan betapa punggung pria itu selalu menjadi penghias mimpinya. Seperti pungguk merindukan bulan, keberuntungan akhirnya mulai melirik kepada Chizu. Ia akan sekelas dengan Ryou dalam sebuah mata kuliah umum. Namun ia tidak membiarkan hatinya terbuai begitu saja, mengingat pengalamannya pada saat SMA yang buruk.
kya~! yuri~~~~! XD
keren… konsep sakuragaoka nya lebih modern dari buatan gw… dan tampak lebih hi-tech.. mengingat ada replika pohon sakura yang bisa mengembangkan bunga sakura XD
lucu waktu chizu langsung blushing pas lihat Ryou.. tapi agak kecewa soalnya kirain bakal mengarah ke yuri :p
lanjutin… mungkin muncul cameo di cerita gw…
makasih buat inspirasinya XD
mungkin aga sedikit ke sana..tapinya normal2 aja maunya