<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Suatu hari di Sakuragaoka...</title>
	<atom:link href="http://storiesofsakura.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://storiesofsakura.wordpress.com</link>
	<description>Cerita dari Kota Tempat Bunga  Sakura Tumbuh</description>
	<lastBuildDate>Wed, 09 Sep 2009 21:44:07 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='storiesofsakura.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Suatu hari di Sakuragaoka...</title>
		<link>http://storiesofsakura.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://storiesofsakura.wordpress.com/osd.xml" title="Suatu hari di Sakuragaoka..." />
	<atom:link rel='hub' href='http://storiesofsakura.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Sakuragaoka [prolog]</title>
		<link>http://storiesofsakura.wordpress.com/2009/09/09/sakuragaoka-prolog/</link>
		<comments>http://storiesofsakura.wordpress.com/2009/09/09/sakuragaoka-prolog/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Sep 2009 21:26:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>boardtheboarden</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sakuragaoka]]></category>
		<category><![CDATA[d_aeri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://storiesofsakura.wordpress.com/?p=30</guid>
		<description><![CDATA[Dalam mimpiku aku mengejarnya. Di duniaku yang sempit ini aku dikejarnya. Mimpiku bagai kaleidoskop kehidupanku, berkelebat, berputar. Warna-warni waktuku silih berganti di depan mataku, semuanya berlalu dengan cepat. Cepat datang, dan cepat pergi. Bagaikan kabut pagi yang akan hilang ketika fajar menjelang. Kehidupanku hanya manifestasi ilusiku semata. Akan tetapi, ilusi-ilusi tadi semakin lama semakin nyata. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=storiesofsakura.wordpress.com&amp;blog=8828378&amp;post=30&amp;subd=storiesofsakura&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam mimpiku aku mengejarnya. Di duniaku yang sempit ini aku dikejarnya. Mimpiku bagai kaleidoskop kehidupanku, berkelebat, berputar. Warna-warni waktuku silih berganti di depan mataku, semuanya berlalu dengan cepat. Cepat datang, dan cepat pergi.  Bagaikan kabut pagi yang akan hilang ketika fajar menjelang. Kehidupanku hanya manifestasi ilusiku semata.</p>
<p>Akan tetapi, ilusi-ilusi tadi semakin lama semakin nyata. Warna-warni yang selalu mengaburkan pandanganku kini menjadi jalan setapak di bawah telapak kakiku. Dan kabut yang selalu menyelimuti hatiku, kini memudar, digantikan oleh sosoknya yang kelam, namun hangat.<span id="more-30"></span></p>
<p>Dia mengejarku.<br />
Atau aku yang mengejar dia?<br />
Tuan sesosok yang kelam, bisakah Anda menceritakan siapa diri Anda sebenarnya?<br />
Kenapa Anda ada di sini?<br />
Ke mana kabut-kabutku yang selalu menghantuiku?<br />
Kenapa warna-warni yang selalu membayangi pandanganku kini menjadi jalan setapak menuju Anda?<br />
Kenapa Anda begitu hangat Tuan?<br />
Kenapa jantungku berdebar setiap kali Tuan muncul?<br />
Tolong jawab aku..</p>
<p>==========<br />
“Chizu,”<br />
“Yap?”<br />
“Menurutmu, kucing di sana lagi mikirin apa ya?”<br />
“Dunno,”,jawab Chizu sambil menyeruput tehnya.”Tanya aja.”</p>
<p> Bnm,nb v“Betedobelyu, aku teringat kucing di rumahku.”</p>
<p>“Kucing jalanan yang itu? Yang takut sama tikus?<br />
“Hei, tikusnya itu ukurannya hampir dua kali kucingku tahu, wajar dong kalau dia takut?”</p>
<p>Chizu menatap Cynthia dengan tatapan setengah menghina seakan mengatakan ‘rumahmu seperti apa sampai tikus pun berukuran dua kali lipat dari kucing’. Cynthia membalas tatapannya dengan tiupan menggunakan sedotan milkshake-nya. </p>
<p>“Begini nih, yang bikin kamu susah dapet cowok, jorok!” kata Chizu sambil mengelap mukanya dengan sapu tangan.<br />
“Sigh..apakah punya pacar merupakan keharusan di Jepang?”tanya Cynthia.<br />
“Hoo, jadi kamu mau jadi perawan tua di sini?”balas Chizu dengan senyuman licik.</p>
<p>Yep, itulah salah satu percakapan sehari-hari antara Cynthia dengan Chizu. Cynthia merupakan seorang wanita asal Indonesia yang saat ini sedang dalam masa studi S2 di Jepang. Seorang wanita simpel namun ambisius yang berjuang meniti kariernya karena pengaruh masa lalunya yang gelap. Wanita yang menjadi lawan bicara Cynthia adalah Chizu, seorang mahasiswa tingkat 2 di satu-satunya universitas di kota itu. Tidak banyak hal menarik yang bisa diceritakan dari kota ini, Sakuragaoka, kecuali sebuah cafe di pusat kota, Rosalia, yang merupakan cafe dengan hidangan pastry sebagai sajian andalan (“OH god, uang bulananku bisa habis gara-gara pastry sial ini!”, kata Cynthia). Selain itu, ketika musim semi, pemandangan yang terhampar ketika pandangan dilayangkan keluar jendela sungguh memukau, Sakuragaoka bagaikan kota yang diselimuti serpih merah jambu bunga sakura (awal mula nama cafe Rosalia). Namun tidak dapat dipungkiri lingkungan di kota Sakuragaoka terawat dengan baik, terima kasih kepada warganya yang disiplin.</p>
<p>Cafe Rosalia pulalah, yang menjadi awal persahabatan Cynthia dengan Chizu dan sekaligus menjadi tempat biasa Cynthia dan Chizu bertemu ketika akhir minggu. Hari ini pun, di Sabtu sore yang indah ini, Cynthia dan Chizu sedang duduk-duduk di cafe menghabiskan waktu sampai malam.</p>
<p>“Coba lihat Cynthia,”kata Chizu sambil menyolek pundak Cynthia,”sakuranya indah banget ya.”<br />
“Pemandangan yang tidak akan pernah ada di negara asalku,”kata Cynthia sambil ikut memandangi pohon-pohon sakura di luar.”Pas sekali kita duduk di sini, dekat dengan jendela yang menghadap ke padang sakura.”</p>
<p>Chizu tidak lanjut berbicara. Ia tetap memandangi sakura di luar dengan sambil memangkukan dagunya ke tangan kirinya. Pandangannya seakan berarti sesuatu yang lain. Seperti memandangi hal yang mengingatkan pada masa lalunya.</p>
<p>“Halo kakak,”panggil Cynthia.”Halo?”</p>
<p>Chizu terbangun dari lamunannya. Sesaat ia nampak bingung, namun dengan cepat ia kembali ke keadaan dirinya yang super kalem.</p>
<p>“Ah maaf..tiba-tiba bayangan lama muncul di kepalaku.”<br />
“Kamu sakit Zu?”tanya Cynthia.<br />
“Aku baik-baik saja,”kata Chizu sambil tersenyum lembut,”ya Sannee-chan?”<br />
“Harusnya kalau kamu ada apa-apa, ceritakan padaku,”kata Cynthia sambil menatap Chizu dengan pandangan ke-kakak-an.<br />
“Sannee-chan baik sekali..tapi aku tidak mau merepotkanmu, kuliahmu di sini kan sudah cukup berat..”<br />
“Haha, tidak cukup berat sampai tidak bisa menjadi teman yang baik untuk temanku yang baik. Ya kan?”tanya Cynthia agak menggoda.</p>
<p>Chizu menjawabnya dengan senyuman yang hangat.</p>
<p>=====<br />
Keesokan harinya.</p>
<p>Hari Minggu menjadi hari pelampiasan bagi Cynthia dan Chizu setelah lolos dari jebakan kesibukan kuliah yang menyiksa. Seperti biasa, mereka bertemu di Rosalia. Setelah beberapa menit berdiskusi di dalam cafe, mereka biasanya langsung pergi menuju tempat yang disepakati. Entah itu ke taman kota, pusat perbelanjaan, game center, atau bahkan perpustakaan.</p>
<p>Namun tidak untuk hari itu.</p>
<p>Chizu lari terengah-engah.  Hari ini Chizu telat bangun, padahal Chizu berjanji akan bertemu di Sannee-chan di Rosalia pukul 10.00. Walapun Cynthia tidak pernah memarahi Chizu jika ia melakukan kesalahan, namun Chizu tetap merasa bersalah jika sampai mengecewakan sahabatnya satu-satunya.</p>
<p>Sedikit lagi, gumam Chizu. Fisiknya yang tidak terlalu kuat membuatnya gampang kelelahan. Sesekali dalam benaknya ia menyalahkan dirinya yang begitu lemah dan tidak pernah berguna bagi orang-orang yang berarti baginya.</p>
<p>Ah itu dia Rosalia, ujar Chizu dalam hati. Namun Rosalia tampak berbeda hari ini. Dari tempat Chizu sekarang terlihat beberapa orang sedang berdiri di depan Rosalia. Yang cukup mengejutkan bagi Chizu Sannee-chan merupakan salah satu orang yang berdiri di depan Rosalia. Cynthia sedang memandang ke arah padang sakura yang terhampar di seberang Rosalia sambil sesekali melirik jam tangannya. </p>
<p>“Hai Cynthia,”panggil Chizu agak terengah. “Kenapa masih di luar?”<br />
“Oh Chizu tumben hari ini telat, kesiangan?”tanya Cynthia sambil menyeringai dan mengacak-acak rambut Chizu yang tergerai berantakan karena terpaan angin ketika lari tadi.<br />
“Auuh..maaf Sannee-chan.. iya pagi ini alarmku tiba-tiba tidak berdering..”<br />
“Sekarang hari istimewa Rosalia,”potong Cynthia.<br />
“Ha?”<br />
“Coba lihat ke dalam.”</p>
<p>Chizu berjalan mendekati pintu masuk Rosalia. Ia kaget melihat keadaan di dalam Rosalia. Di dalam cafe meja-meja yang ada sudah penuh ditempati oleh orang-orang. Keadaan di cafe pun terlihat lebih ceria, dekorasi bunga sakura dipasang di dinding-dinding dan di meja-meja pelanggan. Ini cukup kontras dengan suasana normal Rosalia yang sehari-hari (atau ketika Chizu dan Cynthia bertandang ke situ) yang tenang diiringi dengan musik-musik lembut diselingi lagu-lagu mellow.</p>
<p>Yang tidak kalah mencolok lagi adalah para pelayannya. Seragam pelayan Rosalia yang biasanya memberikan kesan setengah formal namun elegan kini terlihat lebih santai. Pelayan pria mengenakan T-shirt putih dengan gambar 3 kelopak sakura di salah satu lengannya dan tulisan dalam kanji yang berarti “Bunga” di bagian belakang sebelah bawah baju mereka. Pelayan wanitanya mengenakan baju lengan panjang berwarna putih dengan bordiran bunga sakura di lengan baju mereka, dibuat berputar dari ujung lengan pangkal lengan baju. Baju pelayan wanita juga bertuliskan kanji yang sama, yang terletak di bagian belakang baju mereka dekat lubang leher. Yang cukup menarik bagi Chizu adalah rambut pelayan wanita yang dihiasi dengan hiasan seperti rangkaian bunga sakura yang dibentuk sehingga menjadi ikat rambut. </p>
<p>Akhirnya, Chizu menemukan pusat dari segala perubahan ini. Di meja dekat kasir cafe tampak sebuah spanduk berwarna putih dengan tulisan berwarna merah jambu yang berbunyi : “100 Tahun Cafe Rosalia!! Mari kita rayakan dengan pastry spesial a la Rosalia : Sakura Demon!”</p>
<p>&#8220;100 tahun?&#8221; pikir Chizu.<br />
“Hari ini hari ulang tahun Rosalia yang ke-100. Sebenarnya bukan benar-benar Rosalia telah ada dari 100 tahun yang lalu, tapi lebih tepatnya merayakan awal mula legenda yang menjadi awal mula dari cafe Rosalia.”kata Cynthia menjelaskan sambil berjalan ke arah Chizu. Chizu menatap Cynthia sembari Cynthia menjelaskan.<br />
“Dan itulah kenapa akhirnya aku berakhir di sini, di depan Rosalia.”Cynthia melanjutkan.”Orang-orang di dalam sudah terlalu banyak, lagipula aku tidak ingin menunggu di dalam sambil berdiri. Mungkin orang-orang yang berdiri di luar juga sama denganku.”<br />
“Huff..acara hari ini jadi runyam gara-gara aku lupa hal kecil seperti ini. Maaf ya Chizu,”</p>
<p>Chizu segera menghadap ke arah Cynthia. Cynthia cukup terkejut dibuatnya karena gerakannya yang tiba2.</p>
<p>“Tidak..”gumam Chizu.<br />
“Kenapa Chizu? Mungkin kita bisa meminta tempat khusus ke pemilik cafe, toh kita kan pelanggan tetap.” kata<br />
Cynthia sambil tersenyum menghibur.<br />
“Bukan itu..maksudku tidak apa-apa..acara kita berdua hari ini ‘kan senang-senang, sekali-sekali tidak di Rosalia juga tidak apa-apa..”</p>
<p>Puk!</p>
<p>“Aduh!”pekik Chizu.</p>
<p>Cynthia menyentil dahi Chizu.</p>
<p>“Sakit..”rintih Chizu sambil mengusap-usap dahinya.<br />
“Itu supaya kamu lebih semangat. Hehe. Merasa lebih baik?”<br />
“Hu-uh!”jawab Chizu dengan semangat sembari tersenyum. Tampaknya hari ini akan menjadi hari yang agak berbeda dibanding hari-hari biasanya.<br />
“Bagaimana kalau kita ke padang sakura di sana?”tanya Cynthia untuk memulai kegiatan hari itu.<br />
“Ke sana?”<br />
“Bukan ide baguskah?”<br />
“Kakekku pernah bilang, dibalik indahnya padang bunga sakura yang bermekaran di musim semi di kota ini, sebenarnya ada sebuah rahasia yang kurang mengenakkan.”jelas Chizu.<br />
“Oh ya?”<br />
Chizu mengangguk.Cynthia membalas anggukan Chizu dengan pandangan setengah heran, setengah tidak percaya.<br />
“Tapi kalau Sannee-chan memang mau ke sana aku tidak menolak..”<br />
“Tidak usah, lebih baik tidak menantang adat lokal, ya kan? Kalau kata pribahasa di kampungku, di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung.”,kata Cynthia.<br />
“Umm&#8230;”</p>
<p>Hening sejenak. Cuaca hari itu lumayan bersahabat, tidak terlalu panas namun tidak dingin juga, sambil diselingi angin sepoi-sepoi. Sakura yang berguguran makin menambah energi positif yang dirasakan Chizu, Cynthia, maupun orang-orang di sekitar situ. Ditambah dengan suasana meriah yang dihasilkan oleh cafe, atmosfer hari itu benar-benar membawa good mood bagi siapa pun yang masih waras. </p>
<p>“Sebenarnya aku lebih ingin di sini Tianee-chan..”<br />
“Tertarik dengan pestanya ya Chizu?”<br />
Wajah Chizu memerah. Untuk menutupi wajahnya yang benar-benar memerah, ia memalingkan wajahnya dari pandangan Cynthia. Tampaknya ada sesuatu di Rosalia yang membuatnya begitu tersipu malu.<br />
“Hooo&#8230;tertarik dengan orang di dalamnya ya?”tanya Cynthia menggoda.</p>
<p>NGEK.</p>
<p>“Aduh Chizu..kenapa aku dicubit?”rintih Cynthia sambil mengusap perutnya yang jadi agak memar karena cubitan Chizu.<br />
“Tianee-chan jahat..”<br />
“Hahha..aku kan cuma menggodamu..jangan dibawa serius Zu..”kata Cynthia sambil tetap memegangi perutnya namun dengan sedikit menahan tawa.<br />
“Ah Tianee-chan kenapa tertawa?”tanya Chizu dengan agak teriak.<br />
“Ssst jangan keras-keras nanti semua orang di dalam melihat ke arah kita Chizu..terma..”</p>
<p>DUK. Sekarang giliran kaki Cynthia yang menjadi korban.</p>
<p>“Aduh!!”pekik Cynthia.”Ampun Chizu, aku cuma bercanda..”</p>
<p>Sambil setengah menundukkan kepala untuk menutupi wajahnya yang masih merah padam, Chizu berjalan mendekati pintu Rosalia dan melongokan kepalanya ke dalam.</p>
<p>“Yang mana Zu?”.Cynthia ikut melongokkan kepalanya ke dalam.<br />
Chizu mengangkat telunjuknya dan mengarahkannya ke salah satu pojokan Rosalia.<br />
“Yang mana? Jangan cuma ditunjuk..”<br />
“Itu..yang duduk di pojok, dekat jendela yang dihias dengan bunga sakura..”<br />
“Cowok rambut cepak itu?”<br />
“Iya..tapi bukan yang rambutnya berwarna emas..rada norak.”gumam Chizu. ”Sebelahnya.”<br />
“Waw. Seleramu bagus juga Zu.”<br />
Chizu makin memerah. Warna kulitnya yang pucat membuat warna kulitnya semerah bunga sakura.<br />
“Huff Chizu..”kata Cynthia sambil menghela napas. </p>
<p>Cynthia geli sekaligus iba melihat temannya yang lugu itu. Di satu sisi sikapnya dalam menghadapi pergolakan batin karena cinta agak kekanak-kanakan, mengingat usianya yang hampir mencapai 20 tahun. Di sisi lain, ketidaksanggupan Chizu untuk menyampaikan apa yang ia rasakan, khususnya perasaan yang kini sedang ia rasakan, membuatnya sedih, karena ia tahu memendam api cinta yang tak kunjung padam karena tak tersampaikan sungguh menyiksa si empu api tersebut. Cynthia tahu betul hal tersebut, karena pengalamannya di masa lalu yang pernah hampir membuatnya gila.</p>
<p>“Tianee-chan..”. Chizu beralih dari pintu ke hadapan Cynthia. Wajahnya masih semerah sakura, dan Chizu mendapat perasaan akan semakin merah.<br />
“Ya?”<br />
“Tianee-chan pernah jatuh cinta?”</p>
<p>Pertanyaan Chizu kali ini benar-benar membuat Cynthia kehilangan satu detak jantungnya.</p>
<p>“Ahh..kenapa kamu menanyakan hal itu Chi?”<br />
“Aku ingin tahu..bagaimana sih rasanya jatuh cinta?”.Chizu terdiam sejenak.”Kenapa begitu sakit?”<br />
Cynthia menggenggam pergelangan tangan Chizu.<br />
“Kita ke taman yuk?”ajak Cynthia.<br />
“Tapi Tianee-chan,”Chizu sedikit melawan,”aku masih ingin di sini..”<br />
“Sudahlah, kamu pasti akan merasa lebih baik setelah ini. Janji, ya?”</p>
<p>Chizu menyerah. </p>
<p>Taman yang dimaksud Cynthia tadi adalah taman kota kebanggaan Sakuragaoka. Tamannya tidak begitu besar, namun tertata dengan rapi, dengan sebuah replika pohon sakura yang dibuat sedemikian rupa sehingga dapat “mengembangkan” bunga sakura ketika musim semi tiba. Tamannya sendiri secara kasar berbentuk lingkaran, dengan replika pohon tadi sebagai pusatnya. Di sekeliling “pohon” itu terdapat bangku-bangku taman yang terbuat dari kayu. Terdapat sebuah drinking fountain di salah satu sudut taman tersebut. Di sisi lain terdapat stall kecil yang biasanya digunakan oleh pedagang es krim untuk berjualan. Sisa dari area taman tersebut dipenuhi oleh rerumputan dan pohon. Selain pohon replika yang menjadi ciri khas taman tersebut, sebuah fenomena alam yang disebut halo, acapkali muncul di langit di atas taman tersebut. Para tetua Sakuragaoka menyebutnya ‘lingkaran salju malaikat’ yang menandakan turunnya malaikat pemberi berkah kepada orang yang beruntung di taman tersebut. </p>
<p>Bagi Chizu , taman tersebut memiliki arti tersendiri bagi dirinya. Taman tersebut menjadi tempat bermainnya ketika kecil. Bersama teman-temannya, Chizu menghabiskan masa kecilnya bermain petak-umpet, kejar-kejaran, maupun menangkap serangga. Chizu bersyukur taman yang ia dan teman-temannya juluki sebagai ‘Taman Sepatu’ karena setiap kali mereka pergi ke taman itu, mereka hampir-hampir tidak pernah mengenakan sepatu, batal mengalami penggusuran ketika walikota Sakuragaoka ketika Chizu masih kecil mencanangkan program pembaharuan kota untuk memajukan kesejahteraan penduduk Sakuragaoka.</p>
<p>Di taman itu pulalah, ia mendapatkan hadiah terbaik yang pernah ia dapatkan dari orang yang berarti bagi dirinya.</p>
<p>“Nah Chizu,”kata Cynthia ketika mereka telah sampai di taman,”harusnya di sini kamu akan merasa lebih tenang.<br />
“Ayo duduk”. </p>
<p>Mereka memilih bangku yang agak jauh dari jalan masuk ke taman. Kemudian, Cynthia bangkit lagi dari duduknya dan berjalan ke arah stall yang saat ini sedang menjual gula-gula (“Yang biasanya berjualan es krim saat ini sedang dalam perjalanan ke Tokyo, jadi sampai dia bisa berjualan lagi saya yang menggantikan”,jelas pedagang gula-gula).</p>
<p>“Sayang padahal es krim di sini lumayan enak, ini untukmu Chi,”kata Cynthia sambil memberikan salah satu gula-gula kepada Chizu.<br />
“Terima kasih Tianee-chan.”<br />
“Sama-sama Chizuku yang lucu”balas Cynthia sambil nyengir lebar.<br />
“Tianee-chan..”jari Chizu sudah dalam posisi siap mencubit.</p>
<p>Cynthia mengacak-acak rambut Chizu. Menerima perlakuan seperti itu, Chizu seperti diperlakukan sebagai anak-anak. Namun Chizu tidak menolaknya, karena ia memang butuh seseorang untuk bersandar saat ini. Ia menurunkun tangannya, sambil mulai mengulum gula-gulanya.</p>
<p>“Sudah merasa lebih baik Chizu?”tanya Cynthia. </p>
<p>Cynthia duduk bersila di sebelah kanan Chizu, tangan kirinya sekarang sedang mengelus-elus rambut Chizu. Cynthia menghadapkan wajahnya ke Chizu sambil agak menunduk, rambutnya yang panjang agak sedikit menutupi matanya. Sedangkan Chizu, merasa agak canggung karena belum pernah merasakan rasanya ditenangkan oleh seorang ‘kakak’, duduk dengan kaku, kedua kakinya merapat dengan kedua tangannya menggegnggam pegangan gula-gulanya erat-erat. Kepalanya sedikit menunduk selain karena tangan Cynthia yang mengelus-elus kepalanya juga karena malu sekaligus canggung.</p>
<p>“Biasanya”,Cynthia mulai membuka percakapan,”ketika aku sedang dirundung masalah, aku suka melarikan diriku ke suatu tempat yang biasanya aku anggap terbuka namun cukup sepi sehingga suara hatiku yang memberontak bisa aku dengar baik. Biasanya sih, aku lebih memilih di taman. Namun karena di kota asalku aku lebih sering menyendiri di taman kampusku daripada taman kota.”</p>
<p>Chizu mendengarkan dalam sunyi. Angin mulai berhembus sepoi-sepoi ketika Cynthia mulai berbicara, mengibarkan rambut hitamnya yang selembut sutra. Beberapa cowok yang lewat di depan mereka menolehkan pandangan mereka ke arah Cynthia seakan sedang menatap seorang bidadari. </p>
<p>“Dalam kesunyianku, aku bisa merasakan apa yang diriku sebenarnya inginkan. Aku tahu, jawaban itu ada di dalam sini,”Cynthia meletakkan telapak tangannya di dada Chizu,”namun pikiran kadang terlalu bising sehingga jawaban yang aku cari tak kunjung muncul.”<br />
“Dapatkah aku menemukan jawabannya Tianee-chan?”tanya Chizu tanpa melihat ke arah Cynthia.”Kadang aku merasa sakit, tapi aku juga takut menemukan kebenarannya, rasanya berat bagiku untuk melangkah lebih jauh..”. Genggamannya menjadi semakin erat.<br />
“Kamu harus mencobanya, ya? Justru itulah yang menyenangkan dari merasakan cinta; pahit manisnya begitu menyenangkan sekaligus begitu menyakitkan. Walaupun kamu merasa sakit, namun debaran itu begitu menggugah bukan?”. Cynthia menatap Chizu dengan lembut.</p>
<p>Chizu terdiam. Genggamannya mengendur. Telapak tangannya tampak merah bekas dari cengkramannya barusan.</p>
<p>“Oh ya, aku belum menjawab pertanyaanmu ya? Hmm gimana mengatakannya ya..kalau dibilang pernah sih pernah, tapi pengalamanku di masa lalu bukan hal yang menyenangkan.”</p>
<p>Seketika Chizu mendongak mendengar ucapan Cynthia barusan.</p>
<p>“Tidak menyenangkan?”<br />
“Begitulah”jawab Cynthia sambil tersenyum. Kepedihan tersirat dari senyumnya, walaupun hanya sekilas. Akan tetapi Chizu menyadari perasaan sahabatnya tersebut, dan kembali merasa bersalah.<br />
“Maaf..”<br />
“Ah biasa saja kok Chizu!”sanggah Cynthia berusaha membangkitkan mood Chizu kembali.”Kata-kataku barusan jangan terlalu dipikirkan, oke?”. Chizu mengangguk pelan. Ia kembali ke tenggelam dalam kediaman dirinya. Tatapannya mengarah ke tanah dekat kakinya, terdiam.</p>
<p>Cynthia menunggu. Menunggu sahabatnya untuk mengeluarkan perasaan yang ia rasakan; Cynthia tahu seseorang yang sedang dalam keadaan seperti Chizu tidak boleh memendamnya sendirian.</p>
<p>“Tianee-chan..boleh aku curhat sama Tianee-chan?”</p>
<p>Akhirnya keberanian itu muncul, kata Cynthia dalam hati.</p>
<p>”Boleh saja Chizu. Curhat tentang apa?”tanya Cynthia walaupun ia tahu isi curhatannya Chizu bakal tentang apa.”Aku siap mendengarkan.”<br />
“Tianee..Tianee tahu ‘kan tadi, cowo yang aku tunjukkan di dalam cafe?”<br />
“Yap. Kenapa dengan cowo itu?”Cynthia pura-pura memancing Chizu.<br />
“Mm..bagaimana mengatakannya ya..”Chizu memainkan jari-jemarinya,”dia..”</p>
<p>Chizu mulai bercerita. Seperti yang sudah diduga Cynthia, Chizu jatuh cinta kepada cowok tadi. Bernama Konno Ryou, ia merupakan seorang mahasiswa di universitas tempat Chizu kuliah, namun beda jurusan. Chizu menyukai Ryou sudah sekitar 2 tahun yang lalu, namun belum pernah sekalipun mengutarakan perasaan sekalipun kepada Ryou. Selidik punya selidik ternyata Chizu sudah menyukai Ryou semenjak kelas 3 SMA, akan tetapi selama kelas 3 Chizu lebih banyak memendam perasaannya karena harus menyiapkan diri untuk menghadapi ujian nasional masuk universitas. Hati Chizu melunjak ketika mengetahui Ryou juga diterima di universitas yang sama dengan Chizu. Ia berharap ketika di kuliah nanti ia bisa menjalin hubungan dengan Ryou, sekaligus memperbaiki kesalahannya di saat SMA lalu. Sebenarnya Chizu bukannya tidak mau berusaha, akan tetapi Chizu belum memiliki keberanian yang cukup untuk melangkah mendalami dunia percintaan. Tapi waktu akhirnya yang membuktikan. Lama-kelamaan, ia  melupakan perasaannya ketika kehidupan kampus sudah mulai membuat Chizu tenggelam dalam kesibukan. Akhirnya, 1 tahun yang telah ia lewati tidak membuahkan apa-apa bagi Chizu. Hatinya kembali harus merasakan api cinta yang tak kunjung padam. Di ujung tahun pertamanya, ia kembali berniat untuk mengejar Ryou.</p>
<p>Chizu berhenti sejenak. Ia menarik napas dalam-dalam. Angin bertiup semilir membuatnya rambutnya yang tergerai sebahu melambai-lambai, memperlihatkan lehernya yang jenjang. Kadang, Cynthia mengagumi pesona Chizu yang apa adanya. Mungkin dia bukan yang terbaik, tapi dia merupakan sesuatu.</p>
<p>“Tianee-chan tahu kalau Ryou itu sering ke Rosalia juga?”<br />
“Tidak, sejak kapan?”<br />
“Belum lama sih, kira-kira 1 atau 2 bulan yang lalu,”<br />
“Oh ya? Kenapa aku tidak pernah menyadarinya ya..”</p>
<p>Chizu melanjutkan kembali.</p>
<p>Tahun kedua dimulai. Chizu menata perasaannya kembali. Ia merenungi hal-hal yang telah ia lewati, telah ia lewatkan, bagaimana cinta itu tanpa sadar menjadi pemicunya untuk bertahan di satu tahun pertamanya yang keras, dan membayangkan betapa punggung pria itu selalu menjadi penghias mimpinya. Seperti pungguk merindukan bulan, keberuntungan akhirnya mulai melirik kepada Chizu. Ia akan sekelas dengan Ryou dalam sebuah mata kuliah umum. Namun ia tidak membiarkan hatinya terbuai begitu saja, mengingat pengalamannya pada saat SMA yang buruk.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/storiesofsakura.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/storiesofsakura.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/storiesofsakura.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/storiesofsakura.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/storiesofsakura.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/storiesofsakura.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/storiesofsakura.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/storiesofsakura.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/storiesofsakura.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/storiesofsakura.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/storiesofsakura.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/storiesofsakura.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/storiesofsakura.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/storiesofsakura.wordpress.com/30/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=storiesofsakura.wordpress.com&amp;blog=8828378&amp;post=30&amp;subd=storiesofsakura&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://storiesofsakura.wordpress.com/2009/09/09/sakuragaoka-prolog/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f709da56d717e1163335b9b93d044dde?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">boardtheboarden</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sakura&#8217;s Diary [prolog]</title>
		<link>http://storiesofsakura.wordpress.com/2009/09/09/sakuras-diary-prologue/</link>
		<comments>http://storiesofsakura.wordpress.com/2009/09/09/sakuras-diary-prologue/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Sep 2009 21:16:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>boardtheboarden</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sakura&#039;s Diary]]></category>
		<category><![CDATA[lokiyuki]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://storiesofsakura.wordpress.com/?p=26</guid>
		<description><![CDATA[Mimpi, harapan, dan cita-cita. Itulah yang membuat manusia berusaha untuk terus maju agar harapan, mimpi, dan cita-cita dapat tercapai. Kehidupan manusia yang seimbang antara mimpi dan usaha, akan memberikan kebahagiaan. Akan tetapi, manusia seringkali membuang kenyataan dan hanya bermimpi, atau sebaliknya, manusia membuang mimpinya, dan hidup di dunia dalam kegelapan, tanpa arah dan tujuan. Akan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=storiesofsakura.wordpress.com&amp;blog=8828378&amp;post=26&amp;subd=storiesofsakura&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mimpi, harapan, dan cita-cita. Itulah yang membuat manusia berusaha untuk terus maju agar harapan, mimpi, dan cita-cita dapat tercapai. Kehidupan manusia yang seimbang antara mimpi dan usaha, akan memberikan kebahagiaan. Akan tetapi, manusia seringkali membuang kenyataan dan hanya bermimpi, atau sebaliknya, manusia membuang mimpinya, dan hidup di dunia dalam kegelapan, tanpa arah dan tujuan.<br />
Akan tetapi, antara usaha dan mimpi, tidak sepenuhnya seimbang. Sebagian orang lebih banyak bermimpi dibandingkan dengan usahanya. Rasanya, hal ini tentu dialami setiap manusia pada masa kecilnya. Sementara sebagian lain, lebih berusaha keras dibandingkan banyak bermimpi. Dan sebagian besar orang yang beranjak dewasa merasakan hal ini.<span id="more-26"></span></p>
<p>Kemudian, bagaimana jika dengan suatu hal tertentu, mimpi seseorang dapat terkabulkan. Sesuatu yang dapat mengabulkan keinginan, sesuatu yang dapat mengabulkan mimpi. Rasanya, hal tersebut tidak mungkin terjadi, kecuali jika keajaiban terjadi. Ya, setiap orang pernah memimpikan keajaiban.</p>
<p>Tentang keajaiban, aku teringat akan legenda tentang kota tempat tinggalku saat ini, Sakuragaoka, yang sangat populer diantara murid-murid perempuan di sekolahku. Kelopak bunga sakura dari pohon sakura di Sakuragaoka dikabarkan dapat mengabulkan permohonan. Dan sekarang, legenda itu menjadi semakin ramai dibicarakn disekolahku, karena sekarang adalah musim semi dan tentu saja, semua pohon sakura sedang memekarkan bunganya yang indah.</p>
<p>Menurutku, itu semua hanya fantasi perempuan saja. Tidak terpikirkan olehku, bagaimana mungkin kelopak bunga dapat mengabulkan permohonan. Tapi, pemikiran itu hanya bertahan hingga sebelum aku bekerja di kafe Rosallia.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/storiesofsakura.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/storiesofsakura.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/storiesofsakura.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/storiesofsakura.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/storiesofsakura.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/storiesofsakura.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/storiesofsakura.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/storiesofsakura.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/storiesofsakura.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/storiesofsakura.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/storiesofsakura.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/storiesofsakura.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/storiesofsakura.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/storiesofsakura.wordpress.com/26/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=storiesofsakura.wordpress.com&amp;blog=8828378&amp;post=26&amp;subd=storiesofsakura&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://storiesofsakura.wordpress.com/2009/09/09/sakuras-diary-prologue/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f709da56d717e1163335b9b93d044dde?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">boardtheboarden</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sakura Drops [bagian 1]</title>
		<link>http://storiesofsakura.wordpress.com/2009/09/09/sakura-drops-bagian-1/</link>
		<comments>http://storiesofsakura.wordpress.com/2009/09/09/sakura-drops-bagian-1/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Sep 2009 21:12:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>boardtheboarden</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sakura Drops]]></category>
		<category><![CDATA[fukachan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://storiesofsakura.wordpress.com/?p=23</guid>
		<description><![CDATA[Matahari masih enggan menyingkap tabirnya. Namun angin musim semi telah berhembus dengan lembut mengenggam sekelopak bunga merah muda melewati celah yang tidak sengaja terbuka dan turun dengan tenang di lanskap penciuman Ah, wangi bunga sakura…. ‘Jodoh itu ga akan kemana-mana’. Siapa yang ga kenal dengan pemeo itu? Ibuku juga selalu mengatakan itu. Dengan rautnya yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=storiesofsakura.wordpress.com&amp;blog=8828378&amp;post=23&amp;subd=storiesofsakura&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Matahari masih enggan menyingkap tabirnya.<br />
Namun angin musim semi telah berhembus dengan lembut<br />
mengenggam sekelopak bunga merah muda<br />
melewati celah yang tidak sengaja terbuka<br />
dan turun dengan tenang di lanskap penciuman<br />
Ah, wangi bunga sakura….<span id="more-23"></span></p>
<p>‘Jodoh itu ga akan kemana-mana’. Siapa yang ga kenal dengan pemeo itu? Ibuku juga selalu mengatakan itu. Dengan rautnya yang menenangkan, beliau mengucapkan kalimat itu dengan penuh arti, menutup kisah tentang pertemuan dirinya dengan ayah yang diceritakan kepadaku kala aku masih berumur jagung. </p>
<p>Umurku memang sudah melewati standar umur pria menikah, 25 tahun. Di umur ku yang sudah kadung 27 tahun ini, aku masih saja melanglang buana di dunia perbujangan. Sahabat-sahabatku yang rata-rata sudah menikah, ga pernah berhenti-hentinya menyemangatiku soal cinta. Mau apa daya lagi, cewek-cewek yang berkeliaran di sekitarku, walau kekaguman memang muncul dalam hati, tidak menimbulkan keinginan untuk menikahi salah satunya. Dan dengan jawaban yang selalu samalah aku selalu menghindari kekesalan dan kekecewaan sahabatku: ‘tenang aja…jodoh mah ga akan kemana-mana….’dan respon mereka pun selalu sama : manyun.</p>
<p>Bukan berarti aku ingin membujang seenaknya, kekhawatiran soal ini pun memang sempat terpikirkan. Namun perasaan khawatir tersebut segera teralihkan ketika aku bertemu dengan pekerjaan-pekerjaanku. Hal ini ternyata membuat sahabat-sahabat –sekaligus sebagai rekan kerja- gerah.</p>
<p>“Aku mau kok menikah denganmu, Dit. Lagipula kita kan saling suka…”, salah satu sahabat cewekku, Rani, mengatakan itu dengan tiba-tiba di ruanganku.<br />
“Lagi konslet ya?”, langsung saja kubalas cepat.<br />
“Aku serius..!”.  Kalau diperhatikan dengan seksama, wajahnya memang menyiratkan keseriusan, walau aku masih sangsi.<br />
“Aku dua-rius..”, kesangsianku kepadanya kubalas dengan candaan.<br />
“Dit!”<br />
“Kita memang saling suka…tapi ‘ga ada saling mencinta dalam persahabatan’ kan? Lagipula kenapa kamu, orang yang takut pernikahan, tiba-tiba berkata seperti itu kepadaku? Cukup menyeramkan tahu…!”<br />
“Karena aku tahu kita adalah jodoh?”<br />
“Dari mana tahunya mba….?”, ledekku.<br />
“Kalau begitu… Kamu tahu dari mana kalau seseorang itu adalah jodohmu, hah??!!”</p>
<p>Aha…begitu ya.. Aku sekarang mengerti maksud tindakanmu ini. Ternyata kamu masih mengkhawatirkanku ya…sangat..</p>
<p>“Tuhan akan memberitahuku kok..Tenang saja…hehe..”. Jawaban yang tak pernah bosan-bosannya kukeluarkan plus mimik santai yang bagi sebagian orang cukup menyebalkan.<br />
“rrrgh….Ga bisa! Sekarang kamu harus cari dengan serius! Sana ke luar negeri, kalau di sini emang ga nemu yang cocok buatmu!!..”<br />
“Hoi-hoi…jangan seenaknya mba!”<br />
“Ini paspor dan visamu! Gaweanmu biar kami yang urus! Pokoknya kalo dalam seminggu kamu ga nemuin seseorang…kami mogok bekerja…”<br />
“hoi-hoi…”</p>
<p>~~nada telepon genggamku berbunyi ~~</p>
<p>Aah…siapa pagi-pagi buta gini yang udah nelepon?? Kalau telepon genggamku tidak berdering, mungkin lamunanku akan berlanjut sampai ‘Gimana si Rani, Joko, Rasna, dll menculik –benar-benar dalam arti denotatif- dan mendepakku secara sepihak ke Jepang ini’.</p>
<p>Ternyata Joko.</p>
<p>“Pagi~~ Aditya~? Gimanaa hotel yang udah kami siapkaan? Mantep tenan ka~n?”<br />
“Mantep pale lu peyang..! Aku ga habis pikir kalian masih bisa-bisanya melakukan hal ini di kala bisnis kita sedang ga karuan! Lagipula kenapa aku harus cepet kawin? Kenapa kalian yang repot plus bingung ngurusin masalah ini?? Kenapa caranya harus begini??!!”. Aku udah berkali-kali menanyakan hal ini kepada orang-orang yang telah tega menculik dan aku berharap mendapatkan jawabannya saat ini juga, hari ini juga. Toh jika alasannya ga masuk akal, aku bisa langsung pulang. Masa bodoh dengan ancaman Rani.</p>
<p>“Tenang dulu boos…”, aku mendengar helaan napas Joko, “Kami semua melakukan ini untuk kebaikan kamu juga..”<br />
“Jelaskan..”<br />
“Sebenarnya kami benar-benar ingin membantu kamu untuk mencari jodohmu…”<br />
“Ooh…cuman itu??”<br />
“Ga juga sih…”<br />
“Lalu?”<br />
Selang satu sampai dua detik aku tidak menerima jawaban apapun dari Joko. Semakin lama pun helaan napasnya menghilang dari pendengaranku. Jangan bercanda ya. “Hey, Jok! Jawab!”. Kok hening?? “Joko! Kalau kamu ga jawab, aku bakalan pulang sekarang juga..!! JOKO??!!”<br />
“…SEWLAMAT ULANG TAUN KE 28, ADITYA!!!..”,teriak Joko tiba-tiba.</p>
<p>Buseeeet!!! Dia teriak tepat di telingakuuuu…..bagai tamparan tepat di gendang telingaaa….Besar teriakannya mungkin sebanding dengan pembesaran ukuran tulisan ‘selamat ulang tahun’nya. Ingin kuhardik dia karena teriakannya yang mengilukan tapi karena dia meneriakki dengan ucapan selamat, hardikanku kutahan. Anggap saja sebagai terapi shock di pagi hari (yang indah)…</p>
<p>“Sebenarnya liburan seminggu ke Jepang ini sebagai hadiah ulang tahunmu dari kami. Kami sengaja membuatmu dongkol dengan berbagai kejadian yang kami rencanakan dan akibatnya…sebuah kejutan besar untukmu!!! Kau pasti lupa dengan hari besarmu sendiri kan?”<br />
“…rrr….Iya…aku lupa…….” Aku memang lupa untuk ke sekian kalinya. Perasaanku sekarang bercampur aduk. “Tapi kenapa harus begini caranya? Sampai pake acara culik segala lagi! Keterlaluan kalian….!”<br />
“Hahaha…kalau ga pake cara gini, kamu pasti lebih memilih gaweanmu daripada liburan kan..?”, jawab Joko tepat. “O ya, kami hanya memberikan akomodasi hotel selama seminggu saja loh. Biaya untuk kehidupanmu seminggu di sana pake duitmu saja yaa..hehe…”, lanjut Joko cepat. Ya~, apa sih yang bisa aku harapkan? “Gunakan waktu seminggu ini sebaik-baiknya untukmu. Membangun strategi bisnis baru, semangat baru, pikiran yang segar, apapun kek. Pokoknya selamat bersenang-senang! Kamu pantas mendapatkan liburan ini dari kami karena dedikasimu sangat besar –beri kami kesempatan untuk beraksi laah-.  Dan semoga kamu cepet dapat jodoh….”.<br />
Hahaha..ujung-ujungnya jadi soal ini juga. Tak apa-apalah… “Hh…Baiklah… Terimakasih banyak, Joko dan semuanya…”<br />
“Maaf juga soal kemarin malam. Kamu udah dipaksa, ditarik, dibekep, di-“<br />
“Yayaya..sudahlah…Asal kalian ridho gaji kalian bulan ini dipotong…”. Aku mendengar helaan panjaang berat Joko sebagai jawabannya. Apa boleh buat. Ini adalah balasan yang cukup setimpal. Mau tidak mau mereka harus terima.</p>
<p>Akhirnya pembicaraan aku dan Joko telah usai, diakhiri dengan pesanku untuk menjaga ibuku dan  menyisakan berbagai pikiran dan rencana kegiatan yang akan kulakukan di Jepang ini. Tidak boleh dilewatkan, tidak boleh kusia-siakan. Bisa saja aku mendapat relasi baru di sini, tentu saja pengalaman dan semoga…jodoh. Hhh….<br />
Kelopak bunga sakura yang telah membangunkanku di pagi hari masih tergenggam di tangan. Wanginya masih dapat tercium dengan baik. Ah…Di mana aku akan menyimpannya sementara ya? Lemari kayu kecil di sebelah kasurku seperti memanggil-manggil : ‘simpan barang berhargamu di sini~~’ dan setelah aku menyimpan kelopak sakura tepat di pojok permukaan lemari, aku mengambil tumpukan kertas di sana yang ternyata adalah katalog-katalog pariwisata. </p>
<p>Aku berharap aku bisa tahu dimana aku sekarang karena Joko tidak memberitahu apapun tentang kota apa yang sedang kusinggahi ini –dan bodohnya juga aku lupa menanyakannya… Haha…Katalognya pun penuh dengan coretan-coretan merah khas Rani! Tulisan ‘u r here!’ dan tanda panahnya yang menunjukkan ikon hotel menjelaskan dimana aku sekarang.  Ooh&#8230;ternyata aku sedang berada di kota X tooh… Aku pernah mendengar tentang kota ini. Kemudian katalog-katalog berikutnya memuat objek pariwisata di kota-kota sebelah : Kota Sakuragaoka, lalu Kota bla-bla…dan bla-bla…Hm? Kertas putih apa ini? Tebal dan berlipat-lipat…….BUSET! Ini daftar titipan oleh-oleh semua!!! ……. eMTeeeee …kaliaaan!!!</p>
<p>Untungnya itu cuman teriakan dalam hati tapi tetap berefek berupa mimik wajah ‘nyengir kuda’ dan tangan yang agak meremas kertas putih. Untuk sebuah kertas permohonan, itu termasuk yang terbesar yang pernah kudapat, baik dari ukurannya, isinya, dan hurufnya. Hhh…. Ada yang minta aksesoris itu lah, pernak-pernik apalah, sandang pangan khas sini lah, dll dah. Kalau dipikir-pikir lebih lanjut sih, ga masalah untuk belanja belanji barang-barang kayak ginian buat mereka. Akan tetapi pernyataan ‘NB : pake duitmu dulu ya, onega~~i  &lt;3 !!’ bikin aku menghela napas lebih jauh lagi….</p>
<p>Baiklaaaah….!! Apa pun yang terjadi, kehidupan pertamaku di Jepang akan segera dimulai!! Osu!!<br />
Aah…ngomong-ngomong ….pintu kamar hotelnya masih terkunci…</p>
<p>Sial..</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/storiesofsakura.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/storiesofsakura.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/storiesofsakura.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/storiesofsakura.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/storiesofsakura.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/storiesofsakura.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/storiesofsakura.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/storiesofsakura.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/storiesofsakura.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/storiesofsakura.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/storiesofsakura.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/storiesofsakura.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/storiesofsakura.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/storiesofsakura.wordpress.com/23/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=storiesofsakura.wordpress.com&amp;blog=8828378&amp;post=23&amp;subd=storiesofsakura&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://storiesofsakura.wordpress.com/2009/09/09/sakura-drops-bagian-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f709da56d717e1163335b9b93d044dde?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">boardtheboarden</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Love From the Past [bagian 1]</title>
		<link>http://storiesofsakura.wordpress.com/2009/09/09/love-from-the-past-bagian1/</link>
		<comments>http://storiesofsakura.wordpress.com/2009/09/09/love-from-the-past-bagian1/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Sep 2009 21:06:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>boardtheboarden</dc:creator>
				<category><![CDATA[Love From the Past]]></category>
		<category><![CDATA[quentin_aermane]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://storiesofsakura.wordpress.com/?p=20</guid>
		<description><![CDATA[“Terima kasih, Hiroshi…” Kalimat ini terngiang-ngiang di kepalaku. Suaranya yang begitu lembut. Senyumnya yang begitu indah. Kasihnya yang begitu murni. Aku merindukannya. Setelah sekian lama dan akhirnya aku kembali ke sini, aku sangat merindukannya. Dan aku kembali mengingat bagaimana kami bertemu. Sebuah bolpoin terjatuh di depanku. Aku mengambilnya lalu berdiri. Seorang wanita berdiri dari kursinya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=storiesofsakura.wordpress.com&amp;blog=8828378&amp;post=20&amp;subd=storiesofsakura&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“Terima kasih, Hiroshi…”</p>
<p>Kalimat ini terngiang-ngiang di kepalaku. Suaranya yang begitu lembut. Senyumnya yang begitu indah. Kasihnya yang begitu murni. Aku merindukannya. Setelah sekian lama dan akhirnya aku kembali ke sini, aku sangat merindukannya. Dan aku kembali mengingat bagaimana kami bertemu.<span id="more-20"></span></p>
<p>Sebuah bolpoin terjatuh di depanku.  Aku mengambilnya lalu berdiri. Seorang wanita berdiri dari kursinya dan menghampiriku. Raut wajahnya mengatakan’ maaf’. Dia tampak merasa bersalah.</p>
<p>“Ah, maaf, terima kasih sudah mengambilkan bolpoin saya.”<br />
“Silahkan…” aku menyerahkan bolpoin miliknya di tanganku.</p>
<p>Dia kembali ke mejanya di dekat jendela dan mulai menulis lagi. Wajahnya seolah mengatakan ‘ah, aku melakukannya lagi. Sekarang harus kembali bekerja.’ Aku memperhatikan apa yang ada di mejanya sejenak. Sebuah buku dengan table-tabel. Apakah dia bekerja di sini? Aku tidak tahu dan aku tidak menanyakannya. Aku kembali berjalan menuju tujanku semula. Toilet.</p>
<p>Begitulah awal pertemuanku dengannya. Awalnya hanya sebuah kejadian sepele. Tetapi aku tidak tahu apa yang direncanakan Tuhan untukku saat itu. Aku belum tahu bahwa aku akan kembali menemuinya di saat-saat yang lain.</p>
<p>Sebuah bolpoin terjatuh di depanku.  Aku mengambilnya lalu berdiri. Seorang wanita berdiri dari kursinya dan menghampiriku. Raut wajahnya setengah terkejut seolah mengatakan ‘Ah, orang yang waktu itu!’</p>
<p>“Ah, terima kasih. Anda mengambil bolpoin saya lagi.”</p>
<p>Tampaknya dia mengingatku. “Silahkan…” sekali lagi aku menyerahkan bolpoin miliknya.<br />
“Terima kasih banyak. Maaf, saya harus kembali bekerja.” wanita itu kembali ke mejanya. Meja yang sama dengan meja pada saat terakhir kali kami bertemu. Isi mejanya pun sama.</p>
<p>Seperti apa yang kulakukan terakhir kali aku bertemu dengannya, aku kembali berjalan menuju tujuanku semula. Toilet. Tetapi kali ini, saat aku kembali dari toilet, aku melewatinya dan memperhatikannya sejenak. Dia hanya diam memegang bolpoinnya. Dia tidak menulis, hanya diam.</p>
<p>Aku melihat bolpoinnya sudah hampir terlepas dari tangannya. Aku menghampirinya dan menangkap bolpoin yang akan terjatuh itu.</p>
<p>“Bolpoin anda terjatuh lagi…” memang belum sampai ke lantai sih, bolpoinnya. Tetapi, bisa dihitung sudah terjatuh. Aku menyerahkan bolpoin tersebut dengan senyum di bibirku. Senyum yang membuat wanita itu malu.<br />
“Ah, maaf sudah merepotkan. Hahaha…” Dia tertawa kecil untuk menyamarkan rasa malunya.<br />
“Anda bekerja di sini?”<br />
“Eh? Iya benar.”<br />
“Apa yang anda kerjakan?” sebenarnya aku sudah ada bayangan apa profesi wanita ini, tapi aku tetap menanyakannya. Basa-basi mungkin.<br />
“Saya bekerja sebagai manajer tempat ini. Jadi, saya mengurus bagaimana kinerja orang-orang di sini, profit yang dihasilkan, kerugian jika ada, administrasi inventori, dan banyak hal lain.”<br />
Aku mengangguk-angguk. Wanita itu kemudian terkejut, seolah menyadari sesuatu “Ah, saya menggunakan istilah-istilah yang rumit. Maaf, kamu tidak mengerti ya?”<br />
“Tidak juga. Aku mengerti kok.”<br />
“Oh? Benarkah…?” Aku mengangguk. Wanita itu tampak tidak percaya.<br />
“Melamun bukan pekerjaan seorang manajer bukan?” Aku kembali mulai bicara.<br />
“Eh…? Ah ha hahaha…” Wanita tersebut tertawa lagi. </p>
<p>Sama seperti sebelumnya, dia menyembunyikan rasa malunya. Tapi, dia mengakhiri tertawanya dengan sebuah senyum. Sayangnya senyum yang muncul di depanku ini bukan senyum yang indah. Sebuah senyum yang meyeruakkan kesedihan,  seperti berteriak ‘Jangan tinggalkan aku! Jangan tinggalkan aku dalam kesepian!’</p>
<p>“Ngomong-ngomong, siapa namamu…?” Wanita itu kembali bertanya setelah beberapa saat.<br />
“Hiroshi.”<br />
“Senang berkenalan denganmu, Hiroshi… ”</p>
<p>Sejak saat itu, aku menjadi cukup sering bertemu dengan wanita itu. Sayang sekali aku tidak bisa mengingat namanya. Komoe atau Yayoi atau apa, aku lupa. </p>
<p>Awalnya, aku hanya menganggap aku mendapatkan teman baru karena aku tidak punya seorang teman pun di sekolah. Tetapi, belakangan aku mengetahui bahwa wanita itu berarti lebih bagiku dan mungkin aku juga berarti lebih baginya.</p>
<p>Hal ini mulai keketahui ketika aku semakin dekat padanya, seperti pada suatu sore dimana aku baru saja pulang dari sekolah, aku bertemu dengannya di depan tempat dia bekerja.</p>
<p>“Selamat sore!” Aku menyapanya.<br />
“Selamat sore… Hiroshi baru pulang dari sekolah?”<br />
“Begitulah.” Aku memperhatikannya sebentar. Senyum yang disunggingkannya terkesan sedikit dipaksa. Sama seperti senyum-senyum sebelumnya yang dia perlihatkan padaku.<br />
“Apakah anda sudah selesai bekerja?”<br />
“Ya, saya baru saja mau pulang.”<br />
“Pulang duluan? Tempat ini belum juga tutup.”<br />
“Manajer tidak perlu berada di tempat kerjanya sampai tempat tersebut tutup bukan? Apalagi tempat kerja yang seperti ini.”<br />
“Begitukah…?” Aku terdiam sejenak. Hari ini dia tidak terlalu bersemangat. Caranya menjawab pertanyaan yang kulontarkan begitu datar. Kelembutan yang kurasakan darinya beberapa waktu lalu seperti telah hilang bersama dengan waktu.</p>
<p>Tidak, masalah bukan berada pada waktu. Aku kembali memperhatikannya sebentar. Dia sedikit menunduk, tapi tampak jelas bahwa dia tidak lagi tersenyum. Wajah yang coba dia sembunyikan dariku adalah wajah penuh kesedihan kerinduan. </p>
<p>“Mari…” Aku memecah kesunyian diantara kami.<br />
“Eh…?”<br />
“Anda mau pulang kan? Aku akan mengantar Anda.”<br />
“Eh…!?” Jelas sekali ekspresi terkejut di raut wajahnya seperti berkata ‘Serius? Kok bisa-bisanya anak ini berkata seperti itu?’<br />
“Kenapa? Aneh kah? Bukankah sudah tanggung jawab laki-laki untuk melindungi kaum wanita?” Aku berkomentar sedikit. “Mari, aku akan mengantar Anda sampai pintu rumah Anda.”<br />
“A-a… Hmpf…”<br />
“Ada yang aneh?” aku merasa dilecehkan saat dia menahan tawa.<br />
“Ah, tidak… Maaf-maaf, saya hanya kaget saja.” Akhirnya aku diberkati dengan kesempatan untuk melihat senyumnya yang begitu indah sepenuh hati. Aku bersyukur setidaknya kesedihan yang ditampakkannya beberapa menit lalu telah pergi untuk sesaat. “Terima kasih banyak. Kalau begitu, mari…!”</p>
<p>Aku mengikuti langkahnya dan kami berjalan berdampingan. Selama beberapa menit aku hanya terdiam dan mengikuti ke mana wanita ini berjalan. Ke rumahnya kuharap. </p>
<p>Aku masih berjuang dengan perdebatan apakah yang harus kubicarakan selama kami berjalan bersama. Sebenarnya aku ingin menanyakan apa yang menyebabkan wajah sedihnya pada saat kami bertemu sore ini. Tetapi aku juga tidak ingin menyakiti perasaannya dengan mengingatkannya pada kenangan sedih. Aku tidak ingin lagi melihat wajah sedihnya di depanku.</p>
<p>“Hiroshi tinggal di mana?”</p>
<p>Aku tersentak dari lamunanku. Sebuah pertanyaan yang memulai percakapan ini, aku tidak menyangka bukan aku yang melontarkannya.</p>
<p>“Ah, aku tinggal di distrik 11.”<br />
“Distrik 11? Wah, di daerah itu kan rumahnya bagus-bagus! Pekerjaan orangtua Hiroshi apa memangnya?”<br />
“Dulu Ayah adalah seorang pelukis, sementara Ibu bekerja sebagai guru.”<br />
“Dulu? Sekarang sudah tidak lagi?”<br />
“Mereka sudah tidak ada.” </p>
<p>Aku menghela napas kecil. Entah mengapa aku tidak ada perasaan apapun saat mengatakan orangtuaku sudah meninggal. Aku hanya menunduk saat itu, jadi tidak tahu apa yang tampak di wajah teman-jalan-pulang ku ini. </p>
<p>Untuk beberapa saat, sunyi kembali bersama kami. Hanya suara langkah kaki dan suara angin semilir yang tetap setia menemani kami.</p>
<p>“Sekarang aku tinggal bersama Paman. Beliau yang membesarkanku sejak beberapa tahun lalu saat orangtuaku meninggal.” Aku meneruskan ceritaku supaya kesunyian ini tidak mengikuti kami terlalu lama. “Paman dan Bibi sangat menyayangiku. Kemudian, karena aku tinggal bersama mereka, sekarang aku jadi punya seorang adik. Tidak buruk juga hidup bersama mereka.”</p>
<p>Aku terdiam sejenak, memikirkan apakah ceritaku barusan secara tidak langsung membawa nuansa kesedihan ke dalam suasana yang kami rasakan. Tetapi, aku masih belum bisa mengangkat kepalaku. Aku mencoba meneruskan pembicaraan kami. “Anda sendiri bagaimana? Apakah anda tinggal bersama orangtua atau saudara?”<br />
“Tidak. Aku hidup sendiri.” Sebuah jawaban singkat muncul setelah beberapa lama aku menunggu. Suara yang membawa jawaban pertanyaanku tersebut terdengar lemah dan penuh kepiluan.</p>
<p>Aku mengangkat kepalaku dan melihat wajahnya. Tidak bisa. Kepalanya tertunduk. Sinar matahari yang sudah begitu redup dari belakang kami membuatku semakin tidak mampu melihat raut wajahnya.</p>
<p>“Terkadang aku iri dengan orang dewasa saat mereka bisa hidup sendiri. Aku juga ingin hidup sendiri.” Cerita kulanjutkan. Kucoba untuk mengalihkan perhatiannya dari kesedihan cerita yang kubawa barusan. “Tetapi dulu ayahku pernah berkata bahwa dia mungkin sudah tidak bisa lagi menikmati hidup sendiri. Entah apa maksudnya aku tidak terlalu mengerti.”<br />
“Beberapa dari orang dewasa sekarang memang tidak mampu hidup sendiri. Apalagi mereka yang sudah terikat dengan orang dewasa lainnya.” Sebuah kalimat terlontar. Aku belum sempat menelaah arti dibalik kalimat tersebut, temanku ini melanjutkan kalimatnya. “Jika orang-orang seperti ini memaksakan diri mereka karena suatu alasan, kesedihan tak terbatas akan menunggunya.”</p>
<p>Aku terhenti dari langkahku. Entah mengapa, walaupun aku tidak terlalu mengerti apa maksud dari kalimat yang barusan, tetapi aku merasa ada yang tidak benar. Ada yang mengganjal di pikiranku, tapi aku tidak mengerti apa itu.</p>
<p>“Ah, terima kasih sudah mengantarku sampai sini.” teman-jalan-pulangku ini sudah berdiri di depanku dan berbalik. Aku melihat sekitar, kami berada di dekat jembatan menuju distrik 2. Kemudian aku memperhatikan kembali wajah temanku ini. “Rumahku sudah cukup dekat dari sini. Di seberang sungai ini, belokan kedua ke kanan yang beratap biru dan berpagar hitam.”<br />
“Ah, kalau begitu mari aku antar sampai depan rumah…” Aku menawarkan diri.<br />
“Tidak perlu. Sudah cukup dekat kok. Lagipula, distrik 11 kan masih cukup jauh dari sini. Hiroshi masih perlu melewati 2 distrik lagi. Tidak apa, saya sangat menghargai kebaikan Hiroshi, tapi benar kok, tidak perlu.” </p>
<p>Aku menatap wajahnya. Sebuah senyum disunggingkan, seperti berkata ‘Aku tidak apa, pergilah…’ Tetapi, senyum ini masih tidak terasa sempurna. Masih ada sesuatu yang kurang di sana. Seperti ada yang ditahan, disembunyikan.</p>
<p>Sejak saat aku mengantarnya pulang itu, aku menemukan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin tidak pernah dipikirkan oleh orang lain. Apa maksud dibalik kata-katanya? Apa arti dibalik senyum terakhirnya sore itu? Seperti sebuah permintaan tolong yang dienkripsi, yang harus kupecahkan agar aku dapat menolongnya.<br />
Sekian hari berlalu dan aku sudah berada kembali bersamanya, berhadapan di satu meja. Hanya kali ini, aku sudah menemukan dugaan jawaban yang aku butuhkan.</p>
<p>Hari itu dia tidak bekerja. Hari itu kami hanya berbincang-bincang ringan dan minum teh. Secangkir teh earlgrey hangat dengan aroma yang begitu harum. </p>
<p>“Benar tidak apa hari ini tidak bekerja?”<br />
“Tidak apa, bisa diselesaikan besok. Lagipula, aku tidak terlalu terburu-buru. ”<br />
“Benarkah? Anda yakin tidak ada alasan lain yang menyebabkan Anda enggan mengerjakannya sekarang?”<br />
“Eh? Apa maksud Hiroshi?”<br />
“Aku memperhatikan Anda selama beberapa waktu. Ingat saat pertama kali kita bertemu? Apa yang terjadi saat itu?” Sebuah ekspresi terkejut muncul, aku tetap melanjutkan, “Kemudian setelah itu, aku masih memperhatikan Anda sampai kemarin aku mengantar Anda pulang. Sangat tampak ada ketidakberesan pada Anda. Apakah Anda mengerti apa yang aku bicarakan?”</p>
<p>Tidak ada jawaban.</p>
<p>“Inti dari apa yang aku bicarakan adalah: ada sesuatu yang Anda pendam dalam diri Anda yang membuat diri Anda tampak berantakan dari luar.”<br />
“Eh!?”<br />
“Saya tidak tahu mengapa anda menyembunyikan atau memndamnya. Pasti ada alasan dibalik itu, aku tidak tahu.”<br />
“Alasan apa yang  dimaksud Hiroshi?”<br />
“Entahlah… bukankah seharusnya Anda lebih tahu? Saya hanya bisa menerka-nerka saja. Terkaan saya, hal ini ada hubungannya dengan benda berkilau di jari manis Anda.”<br />
Detik itu, lawan bicaraku ini segera menarik tangan kanannya, menyembunyikan benda yang kumaksudkan barusan. Dia tertunduk diam. Aku berhenti bicara kemudian mengangkat cangkir tehku dan meminumnya sedikit.</p>
<p>Tidak ada sepatah katapun keluar selama beberapa menit. Saat ini aku tidak perlu melihat wajahnya untuk menyimpulkan bahwa aku telah menyelimutinya dengan kenangan sedih masa lalunya. Aku tidak perlu melihat air matanya untuk menyimpulkan bahwa dia sedang menangis.</p>
<p>Lalu apa yang aku lakukan di sana? Menghakiminya? Merasa menang karena telah memojokkannya? Tidak. Justru sebaliknya. Dengan aku membuka cerita masa lalunya, aku berharap dia lebih terbuka padaku. Aku berharap aku dapat mendengar masalahnya dan membantu menyelesaikannya.</p>
<p>“Begitukah? Begitu tampakkah bagi orang lain?” masih terisak, lawan bicaraku ini mulai bercerita.<br />
“Mungkin hanya aku…”<br />
“Benarkah? Kalau begitu Hiroshi hebat sekali…” sebuah senyum, yang lagi-lagi sangat dipaksakan.<br />
Kesunyian kembali bersama kami. Aku memikirkan apa yang harus kukatakan selanjutnya.<br />
“Tidak apakah Anda memendamnya sendirian? Sebuah masalah tidak akan selesai bila Anda tidak memulai untuk menyelesaikannya bukan?”<br />
“Hehe… itu semua sudah terjadi di masa lalu. Apa gunanya menceritakannya sekarang? Tidak akan ada yang berubah.”<br />
“Setidaknya dengan bercerita, Anda dapat melepaskan bebannya bukan? Jika Anda tidak cerita, orang lain tidak akan tahu, apalagi mengerti. Hanya Anda saja yang merasakan sakitnya. Kalau Anda berbagi, Anda tidak akan merasa sakit sendirian. Walaupun tidak sepenuhnya, orang lain akan sedikit lebih mengerti Anda dan beban Anda akan terangkat sebagian. Apakah saya salah?”</p>
<p>Aku berhenti sebentar untuk menarik napas. Kemudian aku melanjutkan.</p>
<p>“Aku bukan bermaksud mencampuri urusan Anda atau mengorek tentang masa lalu Anda. Aku hanya tidak ingin melihat Anda melamun murung, tertunduk sedih, atau sampai menangis.”</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/storiesofsakura.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/storiesofsakura.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/storiesofsakura.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/storiesofsakura.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/storiesofsakura.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/storiesofsakura.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/storiesofsakura.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/storiesofsakura.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/storiesofsakura.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/storiesofsakura.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/storiesofsakura.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/storiesofsakura.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/storiesofsakura.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/storiesofsakura.wordpress.com/20/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=storiesofsakura.wordpress.com&amp;blog=8828378&amp;post=20&amp;subd=storiesofsakura&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://storiesofsakura.wordpress.com/2009/09/09/love-from-the-past-bagian1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f709da56d717e1163335b9b93d044dde?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">boardtheboarden</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sakura Story [bagian 1]</title>
		<link>http://storiesofsakura.wordpress.com/2009/08/13/sakura-story-01/</link>
		<comments>http://storiesofsakura.wordpress.com/2009/08/13/sakura-story-01/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Aug 2009 13:08:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>boardtheboarden</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sakura Story]]></category>
		<category><![CDATA[Psylo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://storiesofsakura.wordpress.com/?p=15</guid>
		<description><![CDATA[Dua kali sehari, enam hari seminggu. Bukan… bukan jadwal minum obat. Itu adalah jadwalku melewati jalan ini setiap berangkat dan pulang sekolah. Jalan ini sepi, karena itu aku merasa jalan ini sangat cocok denganku yang pendiam. Semua rumah membelakangi jalan ini kecuali sebuah rumah yang besar di depan sana. Tapi rumah besar itupun tampak tidak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=storiesofsakura.wordpress.com&amp;blog=8828378&amp;post=15&amp;subd=storiesofsakura&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dua kali sehari, enam hari seminggu. Bukan… bukan jadwal minum obat. Itu adalah jadwalku melewati jalan ini setiap berangkat dan pulang sekolah. Jalan ini sepi, karena itu aku merasa jalan ini sangat cocok denganku yang pendiam. Semua rumah membelakangi jalan ini kecuali sebuah rumah yang besar di depan sana. Tapi rumah besar itupun tampak tidak berpenghuni. </p>
<p><span id="more-15"></span></p>
<p>Rumah itu terbuat dari bata merah, tinggi, lebih tinggi dari pohon sakura yang ada di sampingnya. Pohon sakura besar yang terlihat mulai mekar, pohon itulah satu satunya yang mencolok di halaman rumah itu. Selain itu hanya ada rerumputan yang rimbun tak terawat. Rumput setinggi dada tumbuh di seluruh halaman rumah, menutupi segalanya, termasuk jalan setapak dari gerbang ke pintu rumah. Dua buah gerbang depannya senantiasa menutup, seakan melarang siapapun yang akan mengusik ketenangan Sang Sakura untuk masuk. Meski tampaknya tak terawat, tapi ada papan nama yang tergantung di depan rumah itu, Sakura.</p>
<p>Ironis memang. Rumah keluarga Sakura, tapi tidak ada Sakura lagi selain sebatang pohon yang tumbuh di depannya.  Setiap musim semi, sakura di sinilah yang mekarnya paling indah karena terasa kontras dengan pemandangan di sekitarnya. Mungkin hanya aku yang merasa demikian, tapi aku selalu senang kalau melihat dahan-dahannya melambai lambai ditiup angin. </p>
<p>Namaku Ryonosuke. Ryonosuke Takeda. Aku lahir dan tumbuh di kota ini. Kota kecil ini adalah duniaku. Tak pernah sekalipun aku menjejakkan kaki keluar dari Sakuragaoka. Aku hanya sering melihat dunia luar melalui buku yang berada di perpustakaan keluarga. </p>
<p>Ayah dan Ibuku adalah astronom, karena itu banyak buku tentang bintang di perpustakaan. Bintang bintang selalu menarik perhatianku dengan kerlipan, nama, dan cerita mereka. Dulu aku selalu mendengar cerita tentang asal nama bintang sebagai pengiringku tidur. Mereka pindah ke kota ini setelah menikah untuk melanjutkan pengamatan di bukit Sakuragaoka. </p>
<p>Kota ini, meskipun tidak sebesar Tokyo atau Kyoto, tapi ada perasaan tenteram di sini. Kalau musim dingin, kadang kadang kota ini diselimuti hamparan putih salju. Karpet putih yang dingin dingin empuk menjadi arena perang bola salju. Lalu salju putih itu berganti dengan rerumputan hijau dan jalan aspal saat musim semi datang. Tahun pun berulang lagi.</p>
<p>Kali inipun aku berjalan melewati tempat ini lagi. Libur musim dingin sudah selesai dan tahun ajaran baru dimulai kembali. Cuaca masih tidak bersahabat dengan orang yang tidak kuat dingin. Sisa sisa musim sebelumnya masih tertinggal. Hujan masih sering turun, meski tidak deras. Kali inipun awan gelap menggantung di langit.</p>
<p>Aku berhenti sejenak saat melewati rumah itu. Masih rumah yang sama, tapi ada yang berubah dari biasanya. Sekilas melihatpun orang yang biasa melewati tempat ini akan sadar apa yang berubah. Meskipun sekitarnya masih lebat, tapi rumput yang menutupi jalan setapak di halaman sudah habis dibabat. Apakah sekarang ada orang yang tinggal di dalamnya? Siapa gerangan? Tapi pertanyaanku itu disela oleh suara dering ponsel.</p>
<p>“Ya?” Kujawab panggilannya.</p>
<p>“Hoi, Takeda. Dimana kau?” Suara Tanaka di ujung sana terdengar.</p>
<p>“Lagi di jalan, sebentar lagi sampai ke sekolah.”</p>
<p>“Cepat! Yang lain sudah kumpul nih. Cuma tinggal kamu yang belum dateng.”</p>
<p>“Oke. Tunggu aku 5 menit lagi.” Kututup telepon selularku tanpa mempedulikan ocehan Tanaka selanjutnya.</p>
<p>Hari ini memang rencananya kami akan mengerjakan tugas kelompok di sekolah. Tanaka ketua kelompoknya. Dia orang yang tidak tepat waktu, tapi bukan orang yang suka terlambat. Dia justru datang lebih cepat beberapa saat sebelum waktu perjanjian. Seperti kali ini, seharusnya masih ada 10 menit lagi, tapi dia sudah mulai menghubungi orang orang yang belum kelihatan. </p>
<p>Aku melihat sekilas ke rumah besar untuk terakhir kalinya sebelum aku meninggalkan tempat itu. Sekedar untuk meletakkan rasa penasaranku. Tapi justru rasa penasaranku semakin bertambah. Kali ini jendela lantai atas terbuka. Di tepi jendela tampak seorang wanita melamun bertopang dagu, memandang kosong ke langit. Rambutnya hitam panjang, menari nari dibelai angin. </p>
<p>Pertanyaan pertanyaan yang bermunculan di kepalaku kualihkan. Sekeras apapun aku berpikir, jawabannya tidak akan muncul begitu saja karena aku bukan peramal. Tiba tiba terbersit di pikiranku, jangan jangan pemilik rumah itu akhirnya kembali menempatinya. Aku lupa karena saking lamanya tempat itu tidak ditinggali. Biar saja, toh seandainya dia adalah pemilik rumah itu, dia berhak tinggal di dalamnya. Sekarang aku harus segera pergi ke sekolah sebelum hujan dari langit atau hujan dari mulut Tanaka turun.</p>
<p>“Akhirnya datang juga. Sini kau!” Tanaka memanggilku saat melihatku masuk ke dalam kelas. Aku melangkah mendekatinya.</p>
<p>Di meja, aku melihat guntingan guntingan kertas berserakan. Ada sebuah benda putih berbentuk seperti terong di atasnya. Itu adalah badan pesawat model yang sedang kami kerjakan. Tugas yang menyenangkan. </p>
<p>“Kau urus yang bagian sayap.” Katanya sambil menyerahkan beberapa lembar kertas. Aku hanya mengangguk kecil. Kami bekerja sampai bel masuk berbunyi.</p>
<p>Selama pelajaran, aku sempat teringat tentang wanita misterius itu. Umurnya kurasa tidak terlalu berbeda jauh denganku. Dan dia anak yang cukup manis pula. Tapi kenapa dia tidak pergi ke sekolah? Biar kupastikan nanti sepulangnya aku dari sini. </p>
<p>Waktu berlalu dengan cepat karena pelajaran hari ini menyenangkan. Aku pulang melewati jalan itu lagi. Tapi aku tidak melihatnya karena jendela lantai 2 kali ini tertutup.  Hanya dahan sakura yang berayun ditiup angin yang ada di depan jendela.  Sama sekali tidak ada wanita. Aku pencet bel yang ada di depan rumahnya. Tapi tak ada jawaban. Tak seorangpun yang keluar. Rumah itu tetap sepi seperti biasa.</p>
<p>Esok harinya, aku melewati tempat itu lagi. Wanita itu juga belum menampakkan wajahnya di jendela. Apakah kemarin itu hanya halusinasiku saja? Apakah rumah ini masih tetap kosong seperti biasanya? Tidak mungkin. Jalan dari gerbang ke pintu rumah terlihat jelas bekas dibersihkan. Pasti ada orang yang sekarang tinggal di rumah ini.</p>
<p>Waktu makan siang. Aku baru saja membeli nasi bungkus di kantin sekolah. Waktu kubuka pintu geser kelasku, kudengar suara anak anak perempuan yang sedang mengobrol.</p>
<p>“Hei hei… kalian tahu rumah hantu yang ada di belakang kompleks kita, gak? Katanya ada hantu yang muncul.” Beberapa gadis berkumpul di satu meja, bercerita sambil makan siang. Topik itu mengundang beberapa orang untuk datang dan ikut mengobrol.</p>
<p>“Rumah yang besar itu?”</p>
<p>“Iya. Ada yang melihat bayangan orang kemarin.Padahal kata ibuku, keluarga Sakura sudah pindah ke kota lain karena anaknya sakit sejak 7 tahun yang lalu. Ibuku juga mendengar suara suara aneh tadi malam dari rumah itu.”</p>
<p>“Ah… paling itu hanya suara kucing.” Seorang anak laki laki menimpali.</p>
<p>“Mana ada kucing yang bersuara ‘tap tap’, ‘huuu’, dan ‘krieeet’ . Dasar cowok cowok bodoh!”</p>
<p>“Kalo bukan kucing ya paling maling…, dasar cewek penakut!” Obrolan itu berubah menjadi ejek ejekan antar gender. Aku yang tadinya sempat tertarik dengan obrolan itu jadi kecewa, lalu berjalan menuju tempat dudukku di samping jendela. </p>
<p>Seminggu kemudian misteri baru terjawab. Aku melihat sebuah truk pengangkut barang berhenti di depan rumah itu saat akan berangkat sekolah. Beberapa orang lelaki terlihat sedang mengangkut barang barang, sebagian membetulkan begian bagian rumah yang rusak dan beberapa lainnya terlihat sedang memotong rumput.  Seorang wanita berdiri di gerbang sambil mengomando mereka. Menyadari aku berjalan mendekat, dia berbalik dan membungkuk.</p>
<p>“Salam kenal. Nama saya Yui Mizunashi. Panggil saja saya Yui. Mulai sekarang saya dan tuan putri akan tinggal di sini. Mohon bantuannya ya.” Dia tersenyum. Umurnya mungkin sekitar 30an awal. Rambutnya lurus dengan potongan pendek. Jas dan kacamata menyiratkan bahwa dia seorang wanita karir. </p>
<p>“Ah…  saya Takeda. Ryonosuke Takeda. Kami tinggal di rumah sana.” Aku menunjuk ke ujung jalan tempatku datang.</p>
<p>“Baiklah tuan Takeda. Salam kenal.” Dia tersenyum lagi. Orang yang ramah, kesanku.</p>
<p>“Ryonosuke saja, tidak usah pake tuan. Tadi kau bilang kau dan tuan putri. Dimana?”</p>
<p>“Tuan putri Hoshino. Maaf, tapi mungkin tuan tidak akan bisa bertemu dengan tuan putri. Beliau tidak menyukai orang lain dan ke sini untuk menyendiri.”</p>
<p>“…” Aku terdiam sejenak. Mungkinkah Hoshino adalah orang yang minggu lalu kulihat di jendela? </p>
<p>“Ah… maaf, Ryonosuke-san.” Dia menutup mulutnya dengan tangan seperti salah mengatakan sesuatu. “Saya pakai kata kata tuan lagi tadi. Semoga anda tidak marah.”</p>
<p>“Tidak apa apa.” Aku tersenyum.</p>
<p>“Permisi, bu. Barang yang ini saya taruh di luar atau di dalam?” Seorang laki laki yang mengangkut sebuah kardus menyela percakapan kami. Yui lalu memberi instruksi pada para pekerja itu. Karena sepertinya mereka sedang sibuk, akupun pamit untuk melanjutkan perjalananku.</p>
<p>“Baiklah Ryonosuke-san. Nanti mungkin saya akan datang ke rumah anda untuk memperkenalkan diri sebagai tetangga baru. Hati hati di jalan.”</p>
<p>“Ah, sepertinya hari ini orang tuaku sedang berada di observatorium, jadi tidak akan ada orang di rumah.”</p>
<p>“Oooh…” Raut wajah Yui sedikit kecewa, tapi langsung berubah menjadi ceria lagi. “Tidak apa apa kalau begitu.”</p>
<p>(===bersambung===)<br />
(cerita ini dibuat oleh Psylo)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/storiesofsakura.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/storiesofsakura.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/storiesofsakura.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/storiesofsakura.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/storiesofsakura.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/storiesofsakura.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/storiesofsakura.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/storiesofsakura.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/storiesofsakura.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/storiesofsakura.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/storiesofsakura.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/storiesofsakura.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/storiesofsakura.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/storiesofsakura.wordpress.com/15/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=storiesofsakura.wordpress.com&amp;blog=8828378&amp;post=15&amp;subd=storiesofsakura&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://storiesofsakura.wordpress.com/2009/08/13/sakura-story-01/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f709da56d717e1163335b9b93d044dde?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">boardtheboarden</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
